Ketua OKIA Harap Polemik Nakes Arwanop Jalan Kaki 12 Jam Segera Diakhiri
Timika,papuaglobalnews.com – Masyarakat Mimika saat ini tengah menyoroti viralnya informasi mengenai tenaga kesehatan (Nakes) di Arwanop yang menempuh perjalanan kaki selama 12 jam menuju Banti dalam kondisi sakit. Persoalan tersebut berkembang menjadi bahan diskusi hangat di media sosial, terutama di berbagai grup WhatsApp di Kabupaten Mimika.
Menyikapi dinamika yang berkembang, Ketua Organisasi Kaum Intelektual Amungme (OKIA), Raimond Kelanangame, meminta semua pihak agar polemik tersebut segera diakhiri karena menurutnya berbagai pernyataan yang muncul mulai mengarah pada saling menyudutkan dan berpotensi mengaburkan informasi yang sebenarnya.
“Saya ingin menyampaikan pernyataan. Saya membaca ada pernyataan dari Kepala Distrik Tembagapura yang seolah-olah menyudutkan informasi dari tenaga kesehatan. Kemudian disusul oleh Kepala Dinas Perhubungan. Nah ini, besok entah dari siapa lagi. Kami masyarakat meminta polemik ini tidak berkepanjangan,” kata Raimond dalam rekaman video berdurasi 4 menit 27 detik yang diterima redaksi papuaglobalnews.com, Kamis malam 11 Juni 2026.
Raimond berharap dalam konteks persoalan tersebut perlu ada pihak yang bertindak sebagai mediator untuk menggali dan mengumpulkan informasi secara akurat guna mengetahui kronologi sebenarnya sehingga persoalan dapat diselesaikan secara internal di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mimika.
“Tidak boleh ini keluar menjadi wacana-wacana politik yang akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak manapun,” harapnya.
Tokoh muda Amungme itu juga menyarankan kepada Bupati Mimika bersama Wakil Bupati dan Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Mimika agar secara bijaksana memanggil para pihak terkait, termasuk Kepala Puskesmas, ASN, maupun tenaga kesehatan yang terlibat langsung dalam video viral tersebut untuk memberikan klarifikasi secara terbuka dan jernih.
Menurutnya, langkah tersebut penting agar informasi yang berkembang di masyarakat tidak semakin liar dan tidak menimbulkan kesan adanya pihak tertentu yang saling membela atau saling serang.
Ia menilai persoalan internal seperti ini seharusnya dapat diselesaikan lebih cepat melalui mekanisme internal pemerintahan.
Selain itu, Raimond juga mendorong DPRK Mimika sebagai mitra pemerintah agar dapat membantu menjembatani persoalan tersebut supaya tidak berkembang lebih jauh dan tidak mengganggu pelayanan publik, khususnya pelayanan kesehatan dan pendidikan di wilayah pegunungan maupun pesisir.
Dengan demikian, menurutnya, tidak akan muncul pengelompokan atau kubu-kubu yang justru dapat memperkeruh situasi.
“Hari ini Kepala Distrik Tembagapura dan Kepala Dishub bersatu. Lalu bagaimana jika tenaga kesehatan juga bersatu, pasti akan muncul saling serang dan pada akhirnya berdampak pada pelayanan kesehatan yang tidak berjalan dengan baik,” katanya.
Untuk itu, Raimond kembali menyarankan kepada Bupati Mimika agar dengan kerendahan hati dan kebijaksanaan memanggil Kepala Puskesmas serta tenaga kesehatan lainnya untuk duduk bersama mengklarifikasi menyelesaikan persoalan tersebut sekaligus menghentikan potensi munculnya kubu-kubu yang saling menyerang di internal Aparatur Sipil Negara.
Ia berharap persoalan ini menjadi perhatian serius karena masyarakat di wilayah pegunungan dan pesisir saat ini sedang menunggu pelayanan nyata dari pemerintah. **

















