Intan Jaya,papuaglobalnews.com – Yoyakim Mujizau, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Intan Jaya Papua Tengah sekaligus Ketua Tim Peduli Kemanusiaan Intan Jaya, menegaskan bahwa benda yang ditemukan di bawah kolong bangunan Gereja Sion Jaindapa Klasis Insiga di Bambu Kuning, yang viral di media sosial Facebook dan WhatsApp serta dipublikasikan sejumlah media online berdasarkan siaran pers Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom, tertanggal 2 Juni 2026, bukanlah bom seperti yang diberitakan.

Dalam rekaman video berdurasi 10 menit 42 detik yang dibuat bersama adiknya yang diterima pada hari ini Kamis 4 Juni 2026 yang diterima redaksi papuaglobalnews.com, Yoyakim menjelaskan bahwa isu adanya bom yang diletakkan di bawah kolong gereja telah membuat masyarakat yang hendak kembali membersihkan rumah, halaman, dan gereja mereka diliputi rasa takut.

Menurutnya, kegiatan pembersihan halaman gereja mulai dilakukan pada 2 Juni 2026. Hal itu karena sejak penyisiran yang dilakukan Satgas pada 12 Mei 2025 hingga 2 Juni 2026, masyarakat meninggalkan kampung tersebut dan mengungsi ke berbagai daerah.

Namun setelah hampir satu tahun berada di pengungsian di Nabire, Timika, dan Kota Sugapa, masyarakat mulai merasa tidak betah dan berkeinginan kembali ke rumah mereka yang telah ditinggalkan.

Saat membersihkan halaman gereja, warga menemukan sebuah benda yang kemudian diduga sebagai bom yang dipasang oleh TNI-Polri. Informasi tersebut kemudian berkembang sejak 2 Juni hingga 3 Juni 2026. Sementara itu, Tim Penanganan Konflik bentukan Pemerintah Kabupaten Intan Jaya belum sempat turun ke lokasi untuk memastikan kondisi sebenarnya serta memberikan rasa aman dan kepastian kepada masyarakat.

“Maka saya sebagai Tim Peduli Kemanusiaan, sebagai putra daerah yang peduli kemanusiaan bersama rombongan turun ke tempat kejadian melakukan pengecekan. Kami keluarkan barang itu lalu kami lakukan upaya-upaya untuk memastikan apakah barang itu meledak atau tidak,” jelasnya.

Setelah benda yang dicurigai sebagai bom tersebut dikeluarkan dari kolong gereja, benda itu difoto dan direkam. Selanjutnya, Yoyakim dan rombongan menyampaikan informasi tersebut kepada anggota TNI di pos terdekat untuk meminta penjelasan.

Menurut Yoyakim, anggota TNI yang menerima informasi tersebut menjelaskan bahwa benda itu bukan bom maupun granat rakitan. Namun demikian, mereka tetap diminta berhati-hati apabila benda tersebut merupakan rakitan yang tidak diketahui asal-usulnya.

Setelah mendapatkan penjelasan tersebut, Yoyakim bersama rombongan kembali ke lokasi dan melakukan uji coba dengan mengikat benda itu menggunakan tali panjang, kemudian menariknya ke berbagai arah serta membenturkannya ke tembok dan pagar. Namun tidak terjadi ledakan maupun letupan.

Setelah mengetahui tidak ada reaksi yang mengarah pada bahan peledak, mereka memberanikan diri mendekati dan mengambil benda tersebut.

“Kami nyatakan barang itu bukan bahan peledak. Namun kami meyakinkan, menyatakan, dan mengklarifikasi bahwa barang yang ada itu adalah biji lonceng gereja bagian dalam yang biasanya digunakan untuk memukul lonceng sehingga menghasilkan bunyi,” jelasnya.

Selain digunakan sebagai bagian dari lonceng gereja, Yoyakim mengatakan benda tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh nelayan atau masyarakat pesisir sebagai pemberat mata pancing saat memancing ikan di laut dalam.

Untuk semakin meyakinkan masyarakat, Benami memperlihatkan benda tersebut secara langsung dalam video yang direkamnya.

“Ini barang sudah ada di tangan saya. Ada talinya seperti di video-video yang beredar di grup-grup. Ini kami berdua sudah ambil di TKP dan sekarang sudah saya bawa. Sudah kami koordinasikan dan diskusikan, termasuk sudah disampaikan kepada pihak keamanan dan pihak keamanan sudah mengetahui keberadaan barang ini. Ini bukan bahan peledak,” paparnya.

Berdasarkan hasil pengecekan tersebut, Yoyakim mengimbau masyarakat Intan Jaya, terutama kalangan intelektual dan masyarakat Papua yang belum mengetahui fakta di lapangan, agar tidak membuat argumentasi maupun menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi kebenarannya.

“Karena jika informasi yang tidak benar atau hoaks dimuat, maka masyarakat setempat menjadi takut, trauma, dan tidak mau kembali lagi. Mereka sudah satu tahun mengungsi di Nabire, Timika, dan Kota Sugapa. Mereka menjadi takut untuk kembali ke kampung,” katanya.

Ia juga meminta seluruh pengguna media sosial di Papua agar tidak menyebarkan informasi yang belum dapat dibuktikan kebenarannya.

“Kami dari lapangan menyatakan bahwa informasi yang beredar itu tidak benar. Dan ini sudah kami buktikan, sudah kami sampaikan bahwa ini barang pemberat untuk memancing ikan atau bisa dipakai di gereja-gereja sebagai biji lonceng atau anak lonceng,” ujarnya.

Yoyakim berharap sebelum memuat atau menyebarkan informasi yang berpotensi meresahkan masyarakat serta menimbulkan ketakutan dan trauma, setiap pihak terlebih dahulu melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan mengetahui kondisi di lapangan. **