Keluarga Fondasi Utama Pendidikan Anak, Literasi Dimulai dari Rumah
Timika,papuaglobalnews.com – Keluarga merupakan fondasi utama dalam pendidikan anak. Proses belajar literasi dimulai sejak seorang anak berada dalam pelukan ibunya, ketika pertama kali mengenal dan mengucapkan kata “mama” atau “papa”.
Hal tersebut disampaikan narasumber dari Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Alvonds R. Najoan, saat menyampaikan materi pada sosialisasi bertajuk “Kesadaran Keluarga dalam Peningkatan Pendidikan dan Keterampilan untuk Mewujudkan Sumber Daya Manusia Berkualitas dan Berdaya Saing di Wilayah Distrik Kuala Kencana”, yang diselenggarakan Pemerintah Distrik Kuala Kencana di Aula Distrik Kuala Kencana, Selasa 7 Juli 2026.
Peserta kegiatan berasal dari Kelurahan Kuala Kencana dan Kelurahan Karang Senang, serta tujuh kampung, yaitu Kampung Bhintuka, Kampung Jimbi, Kampung Karya Kencana, Kampung Mimika Gunung, Kampung Pioka Kencana, Kampung Utikini Baru, dan Kampung Mulia Kencana. Masing-masing kampung dan kelurahan mengirimkan enam peserta yang terdiri dari kader, kepala kampung, kepala kelurahan, dan tokoh pemuda.
Alvonds menjelaskan bahwa pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang paling utama karena keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal anak.
“Anak pertama kali belajar ketika bersama ibunya. Saat digendong dan disusui, ibu mengajarkan anak mengucapkan kata ‘mama’. Di situlah proses pendidikan dimulai. Karena itu keluarga menjadi lembaga pendidikan yang paling dekat dan memiliki peran utama dalam membentuk karakater seorang anak,” ujarnya.
Menurut mantan Kepala Sekolah TK Tabita Sion Mimika ini menegaskan, keluarga merupakan lingkungan belajar pertama yang menjadi tempat meletakkan fondasi kuat dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas.
Kualitas seseorang tidak hanya diukur dari tingkat pendidikan, jabatan, ataupun banyaknya harta yang dimiliki. Namun, lebih penting adalah karakter, moral, dan sikap hidup yang ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga.
“Nilai-nilai moral tidak lahir begitu saja di sekolah. Pendidikan karakter harus diperkuat di lingkungan keluarga. Keluarga adalah tempat menanamkan nilai-nilai kehidupan yang akan menentukan masa depan seorang anak,” katanya.
Alvonds juga menekankan keberhasilan seseorang saat ini tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik.
“Bukan berarti anak yang juara satu dari SD hingga perguruan tinggi pasti menjadi orang yang paling sukses. Saat ini banyak orang berhasil karena memiliki keterampilan sosial, kemampuan berkomunikasi, serta ketahanan emosional yang baik. Kemampuan seperti itu mulai dibentuk di dalam keluarga,” jelasnya.
Ia mencontohkan banyak konten kreator yang sukses bukan semata-mata karena menguasai teknologi digital, tetapi karena memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Menurutnya, keluarga memiliki sejumlah peran penting, antara lain memberikan dukungan emosional, membangun rasa percaya diri, menciptakan rasa aman dan nyaman, serta menjadi tempat pertama anak belajar nilai moral, etika, keterampilan hidup, dan budaya.
“Rumah harus menjadi tempat paling nyaman bagi anak. Kalau sampai anak merasa rumah bukan tempat yang nyaman, itu menjadi bahan evaluasi bagi orang tua. Anak membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman dari keluarganya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun komunikasi yang baik di dalam keluarga, termasuk membiasakan makan bersama agar tercipta kedekatan dan kehangatan emosional antara orang tua dan anak.
Selain itu, orang tua diharapkan dapat mewariskan berbagai keterampilan yang dimiliki kepada anak-anak, baik keterampilan hidup maupun kemampuan yang berkaitan dengan mata pencaharian keluarga.
“Kalau orang tua memiliki kemampuan mencari anggrek hutan, berkebun, memasak, bertani atau keterampilan lainnya, itu bisa diwariskan kepada anak sebagai bekal kehidupan. Keterampilan seperti itu sangat berharga,” pesannya.
Dalam materinya, Alvonds juga menyoroti dampak buruk kebiasaan mengonsumsi minuman keras dalam rumah tangga yang ikut memengaruhi perkembangan psikologis anak.
“Ketika seseorang mabuk, ia kehilangan kemampuan berpikir secara rasional. Dalam kondisi seperti itu sering kali orang tua melukai hati anak-anak, baik melalui perkataan maupun tindakan. Hal seperti ini akan membekas dalam perkembangan karakter anak,” tegasnya.
Keluarga memiliki peran memberikan rasa identitas, kasih sayang, keamanan, stabilitas, serta menjaga kesehatan fisik dan mental anak sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.
Lebih lanjut, Alvonds menjelaskan keberhasilan pendidikan membutuhkan sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Menurutnya, keluarga berperan sebagai lembaga pendidikan informal yang bertanggungjawab menanamkan nilai moral, agama, karakter, dan etika. Sementara sekolah menjadi lembaga pendidikan formal yang memberikan ilmu pengetahuan, keterampilan, serta membentuk kedisiplinan peserta didik.
Ia juga mengungkapkan tantangan pendidikan di wilayah pesisir Mimika. Banyak anak terpaksa mengikuti orang tua melaut selama berbulan-bulan sehingga proses belajar di sekolah terputus dan harus mengulang dari awal ketika kembali.
“Itu menjadi salah satu kendala besar di wilayah pesisir. Jumlah guru juga terbatas sehingga proses belajar sering terganggu ketika anak lama tidak mengikuti sekolah,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh orang tua di Distrik Kuala Kencana agar memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya pendidikan anak.
“Jangan sampai anak tidak sekolah hanya karena persoalan seragam atau kendala lainnya. Kalau memang ada kesulitan, komunikasikan dengan kepala sekolah agar bisa dicarikan solusi. Yang terpenting anak tetap bersekolah,” tegasnya.
Menurut Alvonds, pendidikan merupakan gerbang utama dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Oleh sebab itu, orang tua harus menanamkan dalam pikiran anak sejak dini bahwa sekolah adalah kebutuhan yang wajib dipenuhi.
Ia juga mengingatkan bahwa bagi masyarakat yang belum sempat menyelesaikan pendidikan formal, pemerintah telah menyediakan layanan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
“Kami berharap seluruh orang tua di Distrik Kuala Kencana memiliki kesadaran bahwa pendidikan adalah investasi masa depan anak. Dengan keluarga yang kuat, sekolah yang baik, dan dukungan masyarakat, maka kita dapat mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing,” pungkasnya. **













