Kaum Intelektual Amungme dan Kamoro Palang Kantor Yayasan Caritas, Ini Tuntutannya
Dalam rekaman video itu, Hellois menegaskan sambil menunjuk ke arah spanduk yang telah dipasang bahwa palang tersebut tidak dibuka sebelum ada solusi dari pihak-pihak terkait.
Ia bahkan mengancam akan melakukan aksi menduduki Kantor Keuskupan Timika apabila belum ada solusi atas tuntutan yang disampaikan.
“Sehingga saya minta kepada PT Freeport, YPMAK, LEMASA dan LEMASKO mari kita duduk cari solusi benahi Yayasan Caritas ini dengan baik,” ajaknya.
Ia berharap tidak ada lagi permainan politik maupun keputusan sepihak dalam memilih seseorang untuk duduk sebagai pucuk pimpinan di dalam Yayasan Caritas.
Secara tegas, Hellois bersama Kaum Intelektual Amungme dan Kamoro menolak apabila palang yang dipasang dibuka tanpa adanya solusi yang dihasilkan bersama.
“Masalah kepengurusan dan RSMM perlu dibenahi. Cara penanganan medis di RSMM sudah tidak baik dibanding RSUD. Kita perlu benahi,” kata Hellois.
Ia menegaskan, sudah saatnya pengelolaan Yayasan Caritas dan RSMM dilakukan secara lebih profesional dan transparan, tanpa mengabaikan hak-hak dasar masyarakat Amungme dan Kamoro serta lima suku kekerabatan lainnya.
Hellois mengaku, kedatangan dirinya bersama kaum intelektual lainnya disambut oleh RD. Ibrani Gwijangge, Pr. RD. Ibrani berjanji akan menyampaikan aspirasi tersebut kepada Uskup Timika sekaligus memfasilitasi pertemuan dengan PT Freeport Indonesia, YPMAK, LEMASA dan LEMASKO.
“Sekarang kita lagi tunggu kapan ada respons dari pihak-pihak terkait itu. Jika tidak, kami akan duduki Keuskupan Timika,” tegas Hellois. **
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.





















