Jiwa Besar di Tanah Amungsa: Ketika Rival Berjabat Tangan untuk Mimika
Oleh: Yofin Paro – Warga Kelurahan Timika Jaya SP2
FOTO itu sederhana. Dua lelaki di dalam sebuah ruang kerja, saling menyongsong dengan tangan terbuka. Tidak ada podium, tidak ada sorak-sorai kampanye. Namun bagi kita yang mengikuti Pilkada Bupati Mimika 2024 lalu, foto pertemuan Johannes Rettob dengan Maximus Tipagau yang diunggah pada 3 Agustus itu maknanya jauh lebih besar dari sekadar silaturahmi.
Kita semua tahu, keduanya adalah rival. Di atas kertas KPU, pertarungan itu sangat ketat dan keras. Pasangan Johannes Rettob – Emanuel Kemong (JOEL) meraih 77.818 suara, sementara Maximus Tipagau – Peggi Patricia Pattipi (MP3) meraih 66.268 suara, bersaing dengan pasangan AIYE. Tiga putra terbaik Mimika, tiga visi berbeda, bertarung memperebutkan kepercayaan lebih dari 200 ribu pemilih di 18 distrik. Suhu politiknya ketika itu panas, pendukung terbelah, media sosial riuh.
Karena itu, jabat tangan ini adalah peristiwa politik yang penting.
- Politik Usai, Mimika Tetap Ada
Pelajaran pertama dari pertemuan ini adalah tentang batas politik. Di banyak daerah, Pilkada sering meninggalkan luka yang lama: keluarga terbelah, kampung terkotak-kotak, dendam yang dipelihara 5 tahun hingga Pilkada berikutnya. Apa yang ditunjukkan John Rettob sebagai Bupati terpilih dan Maximus Tipagau sebagai tokoh muda, pengusaha, dan pemimpin adat yang disegani, adalah sebuah kedewasaan: bahwa kontestasi itu instrumen, bukan tujuan.
Tujuan akhirnya tetap satu: Kabupaten Mimika
Kalimat Rettob di postingannya, “komunikasi yang baik dan silaturahmi yang terus terjaga merupakan fondasi penting dalam membangun kebersamaan,” terdengar normatif. Tapi jika kita maknai lebih dalam, itulah esensi dari filosofi hidup kita di Papua: Eme Neme Yauware — bersatu membangun. Tidak ada pembangunan yang bisa berjalan di atas perpecahan.
- Jiwa Besar yang Langka di Tanah Papua
Saya menyebut ini jiwa besar, karena tidak mudah.
Jiwa besar dari pihak pemenang untuk merangkul, tidak jumawa, dan membuka pintu kantornya bagi rival. Jiwa besar dari pihak yang belum berkesempatan menang untuk datang, memberi selamat, dan menaruh kepentingan daerah di atas kecewa pribadi.
Di Mimika, yang adalah miniatur Indonesia — ada Amungme, Kamoro, lima suku kekerabatan, pendatang dari seluruh Nusantara, ada gunung, pesisir, kota tambang — kita tidak butuh pemimpin yang hebat sendirian. Kita butuh orkestrasi. Mimika terlalu kompleks untuk dibangun oleh satu kelompok saja.
Maximus membawa gagasan besar tentang pemberdayaan ekonomi adat, kewirausahaan anak muda Papua, dan konektivitas. Johannes Rettob membawa pengalaman panjang birokrasi dan pemahaman tata kelola pemerintahan. Jika dua kekuatan ini berkolaborasi, bukan hanya berjabat tangan, maka yang untung adalah rakyat.
- Pesan untuk Generasi dan untuk Papua Tengah
Makna yang lebih luas dari foto ini harus kita tangkap sebagai pesan untuk seluruh Tanah Papua.
Hari ini Papua Tengah adalah provinsi baru. Semua mata melihat ke Mimika sebagai jantungnya. Jika para elitnya menunjukkan teladan rekonsiliasi, maka rakyat di bawah akan ikut damai. Jika elitnya terus memelihara sekat “kubu 01, 02, 03”, maka pembangunan akan tersandera.
Pertemuan ini harus menjadi awal dari sebuah tradisi baru: Forum Bersama Mantan Kandidat Bupati Mimika. Bayangkan jika semua putra terbaik yang pernah berlaga, termasuk Alexander Omaleng (+) dan Yusuf Rombe, duduk satu meja tiap 3 bulan membahas Mimika. Memberi masukan tanpa jabatan, mengkritik tanpa menjatuhkan. Itu akan menjadi warisan demokrasi yang jauh lebih mahal daripada sekadar memenangkan Pilkada.
Seperti komentar seorang warga di kolom komentar: “papua masih butuh pemimpin.. yang sudah ada harus baku sayang.. politik soal biasa…”
Politik memang soal biasa. Yang tidak biasa adalah cinta kita pada tanah ini.
Mari kita kawal jabat tangan ini agar tidak berhenti sebagai konten media sosial. Mari kita tagih kolaborasi nyatanya: dalam program pembinaan pengusaha asli Papua, dalam pembangunan pendidikan di pesisir dan pedalaman, dalam menjaga Timika tetap aman dan damai sebagai rumah bersama.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat siapa menang berapa suara. Sejarah akan mencatat, apakah ketika menang, mereka mampu merangkul semua untuk membangun.
Mimika memanggil jiwa-jiwa besar itu. Dan hari itu, dua di antaranya telah menjawab. **
Catatan redaksi : Kami menerima tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas dan foto atau gambar pendukung.
Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
Bupati Johannes Rettob dan Maximus Tipagau berpelukan dan diskusi penuh hangat. (Foto – Istimewa).





















