Jalan Sepanjang 5 Kilometer di Wanggar Pantai Distrik Yaro Nabire Putus Total
Selain normalisasi, masyarakat juga meminta pemerintah membangun bendungan atau pengaman aliran sungai agar air tidak terus melebar ke arah jalan, yang telah merobohkan tiang listrik dan mengancam permukiman warga Wanggar Pantai.
Salah seorang warga setempat, Money, mengaku meskipun akses jalan putus sudah berlangsung selama satu bulan, hingga kini belum ada perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Nabire maupun Pemerintah Provinsi Papua Tengah.
“Sudah satu bulan lebih jalan putus tahap kedua ini, tapi belum ada pemerintah yang turun lihat langsung,” ujar Money kepada John.
Ia menambahkan, dirinya bersama sejumlah warga telah mendatangi rumah salah satu anggota DPRK Nabire untuk menyampaikan aspirasi terkait kerusakan jalan tersebut. Namun hingga saat ini belum ada respons atau kunjungan lapangan dari DPRK.
Money juga mengungkapkan, pada November 2025 lalu masyarakat menggunakan dana hak ulayat adat sebesar Rp30 juta untuk menyewa alat berat guna mengeruk sungai dan mengalihkan aliran air menjauh dari tebing jalan. Namun upaya tersebut tidak bertahan lama karena hujan dengan intensitas tinggi kembali turun dan mengikis tanah, hingga badan jalan akhirnya runtuh.
Sebagai langkah darurat, masyarakat membuka jalur alternatif baru agar aktivitas warga dari kampung ke kota maupun sebaliknya tetap berjalan.
Kepada Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, Money berharap pemerintah segera merespons dengan melakukan normalisasi sungai agar aliran air kembali ke jalur semula dan menjauh dari permukiman warga. **






