Oleh : Dianu Omaleng (Kordinator Humas HAPAK)

Ketimpangan ekonomi dan minimnya keterlibatan pengusaha asli daerah dalam perputaran bisnis berskala besar di Kabupaten Mimika memicu lahirnya gerakan restrukturisasi wadah perjuangan ekonomi.

Honai Pengusaha Amungme Kamoro (HAPAK) melalui Kordinator Humas, secara resmi menegaskan posisinya sebagai organisasi garis depan yang bergerak di bidang perlindungan sekaligus penjalin komunikasi bagi para pengusaha lokal.

Kehadiran HAPAK dilatarbelakangi oleh kondisi riil di lapangan, di mana para pengusaha lokal asli Amungme dan Kamoro terus-menerus terabaikan dan tersisih dari berbagai peluang bisnis strategis di negeri mereka sendiri.

Suarakan Kaum yang Tertindas di Tanah Sendiri

Selama ini, dominasi pemilik modal dengan anggaran besar dinilai telah mempersempit ruang gerak bagi pelaku usaha mikro dan menengah berbasis masyarakat adat.

Akibatnya, masyarakat asli yang notabene merupakan pemilik hak ulayat atas tanah adat Amungsa dan Bumi Mimika Wee, justru kerap dipaksa menjadi penonton di tengah masifnya pembangunan dan investasi.

HAPAK hadir secara nyata untuk menyuarakan kaum yang tertindas dalam hal peluang usaha. Kami menolak keras situasi di mana pemilik tempat terus-menerus disisihkan dengan berbagai alasan birokrasi maupun modal.

Mengubah Cara Pandang Keliru

Salah satu misi utama organisasi ini adalah mematahkan stigma dan cara pandang keliru dari pihak luar maupun pemangku kebijakan, yang selama ini menganggap pengusaha asli Papua tidak memiliki kapasitas atau tidak bisa berbuat apa-apa dalam mengelola sektor industri.

Melalui wadah HAPAK, para pengusaha lokal siap membuktikan profesionalisme mereka sekaligus menuntut hak-hak ekonomi yang adil.

Organisasi ini berkomitmen untuk melakukan pengawasan ketat terhadap distribusi proyek pemerintah daerah maupun kemitraan swasta, guna memastikan regulasi keberpihakan (affirmative action) benar-benar menyentuh pengusaha Amungme dan Kamoro secara merata. **