Gunung Bukan Pasar: Apa Arti Kesepakatan Dagang Indonesia – AS bagi Papua
Sarjana Pasifik Teresia Teaiwa menuslis tentang bagaimana kekuatan eksternal militer, ekonomi, ideologis berkonvergensi di ruang-ruang pasifik, membentuk ulang lanskapnya sambil tampil seolah-olah tak terelakkan. Ekstraksi sering datang dengan wajah keniscayaan.
Kesepakatan Indonesia-AS dibingkai sebagai saling menguntungkan. Ia mungkin memperkuat indikator makroekonomi. Ia mungkin meningkatkan penerimaan negara dan posisi tawar strategis. Namun analisis dekolonial mengajukan pertanyaan lain: siapa yang mendefinisikan manfaat?
Bagi komunitas yang hidup di sekitar wilayah tambang di Papua, pembangunan tidak diukur dari volume perdagangan. Ia diukur dari kualitas air, akses terhadap tanah adat, dan keberlanjutan relasi antar generasi dengan ruang hidupnya. Di sinilah epistemologi menjadi penting.
Ketika tanah dibayangkan terutama sebagai stok sumber daya, tata kelola mengikuti logika optimasi. Ketika tanah dipahami sebagai leluhur yang hidup, tata kelola mengikuti logika perawatan.
Tegangan antara dua cara pandang ini mengalir sunyi di bawah setiap perjanjian besar yang melibatkan Papua.
Dekolonisasi dalam konteks ini bukan berarti menutup diri dari perdagangan global. Ia berarti membingkai ulang partisipasi. Ia berarti memastikan Orang Asli Papua bukan sebatas pemangku kepentingan prosedural, tetapi pengambil keputusan yang mendasar. Ia berarti pemulihan lingkungan bersifat mengikat, bukan opsional. Ia berarti merancang masa depan ekonomi yang tidak bergantung selamanya pada umur tambang.
Papua kerap disebut sebagai aset strategis Indonesia. Jarang ia disebut sebagai ujian moral Indonesia. Kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari besarnya pembelian atau lamanya kontrak. Ia diukur dari apakah perjanjian itu memperdalam keadilan di pinggiran sama kuatnya dengan memperkokoh daya tawar di pusat.
Ketika pesawat dikirim dan neraca diperbarui gunung-gunung Papua akan tetap berdiri. Pertanyaannya: apakah ia berdiri dalam keadaan berkurang, atau dalam keadaan dihormati?
Pasifik mengingat sejarah ekstraksi. Ia juga mengingat ketahanan. Jika kemitraan Indonesia-Amerika Serikat hendak menandai babak baru, ia harus melampaui tata bahasa kolomial tentang frontier sumber daya. Ia harus melihat Papua bukan sebagai cadangan, tetapi sebagai relasi. Gunung, bukan pasar, yang seharusnya menentukan cakrawala. (*)






























