Timika,papuaglobalnews.com – Dalam nada suka cita, keluarga besar Lembaga Pendidikan Sekolah Menengah Teologi Kristen (SMTK) Berea Timika merayakan ibadah syukur Hari Ulang Tahun (HUT) ke-31, di Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Maranatha di Jalan Hasanuddin, Jumat 4 September 2026.

Ibadah syukur ini doa pembukaan dipimpin oleh Pdt. Moses Lokbere, S.Th yang juga Ketua Yayasan Pendidikan Kristen Injil Indonesia (YPKII), kotbah disampaikan oleh Pdt. Lukas Kadepa, S.Th yang juga Penasehat GKII Klasis Timika Kota dan doa safa’at oleh Pdt. Nahor Maiseni, M.Th, Sekretaris  Daerah GKII Amungsa.

Perayaan syukur berlangsung sederhana mengusung tema utama “Tak Berkesudahan Kasih Setia Tuhan, Oleh Sebab Itu Aku Berharap Kepada-Nya (Ratapan 3:22-24).

Sub tema “Melalui Perayaan HUT Sekolah, Kita Diingatkan Untuk Menyatakan Kasih Setia Tuhan Kepada Sesama”.

Momen suka cita ini dilengkapi dengan menyipas-kipas memadamkan lilin kue ulang tahun, memotong kue ulang tahun dan saling menyuap untuk makan secara bersama-sama.

Pdt. Lukas Kadepa dalam pesan firman Tuhan mengawali dengan mengajukan suatu pertanyaan refleksi. Mengapa hukum ratapan ada yang membuat warga Yerusalem sunyi? Sejak awal, Yerusalem sebagai pusat dalam pemberitaan kabar baik dan suka cita Injil untuk semua bangsa. Karena dengan adanya ratapan membuat Yerusalem menjadi menderita, sepi dan sunyi. Itu terjadi karena manusia mulai melangkar apa yang dijanjikan Tuhan. Manusia mulai tidak taat dan setia kepada Tuhan. Yerusalem kota yang dipagari Tuhan akhirnya roboh karena ulah manusia berbuat dosa.

Berpedoman dari situasi Yerusalem, Pdt. Lukas menarik masuk ke situasi Kota Timika saat ini yang juga lagi tidak baik-baik saja. Timika yang ramai menjadi pusat dan tujuan orang dari segala penjuru datang mencari hidup, sekolah, mendapat pelayanan kesehatan dan membangun kehidupan ekonomi suatu kelak jika tidak dijaga baik akan mengalami nasib serupa dengan Yerusalem. Menjadi kota sunyi, sepi dan ratapan gara-gara ulah manusia.

Ia mengharapkan manusia harus segera sadar, taat, setia dan bertobat supaya bisa kembali hidup selamat bersama Tuhan.

Ia mengingatkan agar hati dan pikiran manusia yang miring harus diluruskan.

Sementara Ketua Yayasan Pendidikan Kristen Injil Indonesia (YPKII) Pdt. Moses Lokbere, S.Th dalam sambutan mengampaikan SMTK Berea Timika kini merayakan 31 tahun berdirinya lembaga pendidikan ini menunjukan sekolah sudah cukup lama ada.

Ini dibuktikan dengan sudah banyak anak-anak hasil didikan SMTK Berea Timika bergelar doktor dan pemimpin gereja di tanah ini.

“Kami bersyukur, khusus sekolah ini hadir untuk Orang Asli Papua. Kami bangga selama 22 tahun lalu sekolah ini beeroperasi dibawah naungan gereja.Tapi dalam diskusi dengan sekolah dan tokoh gereja, tahun 2017-2021 sekolah usulkan harus ada yayasan sebagai payung hukum dengan tujuan agar sekolah dikenal dunia,” jelas Pdt. Moses.

Pdt. Moses mengucapkan terima kasih kepada para perintis sekolah dan guru-guru  yang mau mengabdi untuk mendidik anak-anak.

“Ini sesuai tema ‘kesetian’ untuk mengabdi. Jasa baik bapak ibu yang setia, Tuhan berkati dan menjadi berkat bagi anak-anak kita yang belajar di tempat ini. Anak-anak yang sekolah di tempat ini dicas dengan pengetahuan dan karakter dan kepribadian yang baik supaya kembali ke lapangan mereka punya kemampuan,” katanya.

Terima kasih serupa, Pdt. Moses sampaikan untuk panitia HUT yang dibentuk dalam waktu singkat pada Agustus lalu namun mampu bekerja keras menyukseskan acara ini.

“Kalau kita setia pada hal-hal kecil, maka hal besar apapun kita bisa kerjakan, karena sudah biasa. Kita selalu siap sedia karena Tuhan ada,” katanya menguatkan.

Ia berpesan semua harus selalu bersyukur jangan menjadi anak-anak yang bersungut-sunggut.

Ia mengajak semua pihak tetap semangat jalankan tugas memajukan sekolah sesuai profesinya dan jadikan SMTK Berea Timika  sebagai rumah bersama untuk tumbuh, belajar dan berbagi, membina karakter semakin disiplin.

Ketua Biro Pendidikan Sinode GKII Wilayah II Papua Tengah Dr. Krinus Kum dalam sambutan mengucapkan selamat kepada SMTK Berea Timika.

Ia mengungkapkan usia 31 tahun bukan sekedar angka dalam waktu yang singkat tetapi menjadi bukti sejarah panjangnya perjalanan sekolah tersebut.

Menurutnya, di dalamnya ada kerja keras, tantangan, hambatan dan doa. Dari pengalaman panjang itu maka sekolah ini boleh bertahan sampai usia 31 tahun tetap berdiri jalankan misi kemanusiaan dalam tugas pelayanan di bidang pendidikan.

Ia mengatakan berbicara pendidikan tidak saja tentang ilmu pengetahuan tetapi ada karakter dan disiplin agar terus tumbuh menjadi aset yang baik. Orang berpendidikan tidak saja cerdas secara ilmu tetapi harus miliki karakater yang baik.

Ia berharap momentun ini tidak hanya menjadi acara seremonial belaka tetapi kesempatan bagi seluruh pihak dapat melihat kembali apa yang sudah dijalankan dalam menatap masa depan sekolah ini semakin baik.

“Kalau kita sudah setia apapun halangan tetap maju. Karena kita setia apapun yang dikerjakan melalui pertolongan Tuhan akan menjadi suatu yang luar biasa,” katanya.

Sementara Nius Wenda, Kabid Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika menyampaikan usia 31 tahun bukan remaja lagi tetapi sudah sangat dewasa. Namun, ia menyampaikan permintaan maaf sejauh ini belum memberikan perhatian secara nyata kepada SMTK Berea Timika.

Sebagai Kepala Bidang Pendidikan Menengah SMA dan SMK, ia berjanji akan berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan untuk memberikan perhatian terhadap sekolah tersebut.

Wenda meminta pihak sekolah untuk segera bertemunya di kantor untuk berdiskusi mencari jalan agar bisa diberikan bantuan oleh pemerintah dalam mendukung keberlanjutan belajar mengajar di SMTK Berea Timika.

Wenda mengungkapkan siswa-siswi yang belajar di SMTK Berea Timika adalah orang muda yang setelah tamat akan berada di tengah masyarakat OAP menghadapi persoalan sosial  yang sangat sulit. Dimana berhadapan dengan karakter manusia yang berbeda.

Di hadapan para guru, siswa dan yayasan, Wenda secara terbuka menyampaikan permintaan maaf atas kekurangan di waktu lalu dan lupakan atas kealpaan pemerintah memberikan perhatian kepada sekolah ini. Namun sudah waktunya bersama-sama berpikir untuk kedepan lebih maju dan cerah. Karena Papua memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa melimpah agar bisa membangun daerah ini secara mandiri.

“Majukan Papua tidak ada orang lain yang datang membangun selain kita sendiri, terutama dalam membentuk karakter dan kepribadian,” katanya.

Wenda merasa miris di kota ini pada malam hari di pinggir jalan saudara-saudara yang lain tidur nyenyak, duduk santai di warung tenda atau café menikmati indahnya malam sambil minum kopi dan seduh teh hangat  tetapi OAP sendiri malah hidup dalam suasana penuh kepanikan dan ketakutan untuk keluar di jalan.

Ini semua, pesan Wenda menjadi tugas dan tanggunjawab semua generasi OAP saat ini. Harus berani, lebih berperan dan jangan takut berbicara tentang kebenaran di hadapan siapapun. Sebab pelajar SMTK Berea Timika dipakai oleh Tuhan untuk bicara.

Ia berjanji akan membantu agar SMTK Berea Timika bisa dimasukan dalam setiap program di Dinas Pendidikan Mimika kedepannya.

Sementara Pdt. Nahor Maiseni, S.Th, Sekretaris GKII Daerah Amungsa mewakili  4 Daerah mengakui melihat wajah sekolah saat ini banyak mengalami perkembangan.

“Kami 4 Daerah sebagai orangtua meskipun tidak berikan material tapi selalu dukung dalam doa. Lewat doa-doa membantu progres kemajuan sekolah kita ini,” katanya.

Pdt. Nahor mengungkapkan perubahan itu dapat dilihat selain kondisi fisik bangunan dari kayu kini sudah permanen. Juga sekolah yang awalnya hanya memberikan ijazah lokal tetapi setelah mengikuti akreditasi dengan mendapat akreditasi C, setiap tamatan sekolah memberikan ijazah nasional.

“Ini suatu kemajuan yang luar biasa. Ada bangunan fisik sekolah, guru bisa bertambah. Itu artinya sekolah bernafaskan GKII tidak ketinggalan. Ini bukti kerja keras semua pihak yang ada di lembaga pendidikan ini,” puji Pdt. Nahor.

Ia mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang bekerja keras membuat sekokah ini bisa berkembang hingga saat ini. Di mana hasil dari lembaga pendidikan sudah menjadi tokoh agama maupun yang bekerja di sektor swasta maupun di pemerintahan. Salah satu alumninya, Pdt. Dr. Hans Waker, M.Si yang kini menjabat Ketua Sinode GKII Wilayah II Papua Tengah.

Selain itu, Pdt. Nahor menyentil saat ini di mana-mana ada konflik dan pembunuhan. Ini menunjukan karakter dan kerohanian manusia sudah tidak benar sehingga begitu gampang saling membunuh. Sebagai ciptaan Tuhan seharusnya saling jaga dan melindungi.

Menurutnya, membentuk orang-orang semacam ini butuh membenahi karakternya.

Ia berharap para pelajar SMTK Berea Timika tidak hanya menerima pengetahuan Teologi dan lainnya, tetapi perlu dibekali sikap dan karakter serta kepribadian yang baik, jika tidak maka akan hadapi kesulitan saat ada di lapangan dalam pelayanan. **

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.