Menurutnya, tekanan tersebut lahir dari rasa keprihatinan yang mendalam karena konflik adat sulit diselesaikan tanpa dukungan pemerintah, terlebih pihak kepala suku maupun DPRK tidak memiliki anggaran untuk menangani perang adat.

“Maka kami minta Bupati Mimika dan Bupati Puncak meskipun tidak ada anggaran untuk perang-perang, tapi kami minta turun mendukung selesaikan persoalan ini dengan cara apapun. Ini yang kami bicaranya keras sehingga ada kata-kata saya yang kurang enak didengar oleh Bupati dan Wakil Bupati Mimika, saya mohon dimaafkan,” ungkapnya.

Sebagai tokoh adat, Deky menegaskan dirinya tidak menginginkan konflik berkepanjangan karena hanya akan menimbulkan semakin banyak korban jiwa.

Ia juga mendoakan agar Bupati dan Wakil Bupati Mimika selalu diberikan perlindungan dan berkat oleh Tuhan dalam menjalankan tugas melayani masyarakat. **