Oleh: Johanes Eliezer Samsong Wato

 

Pesan Hangat dari Mimpi Malam di Bonn yang Dingin

MALAM tadi di Kota Bonn, hujan turun dengan tenang, menyelimuti rumah dengan udara dingin yang membuatku sulit tidur. Di tengah kesunyian itu, aku terbangun dari sebuah mimpi yang sangat hidup, bukan sekadar bunga tidur, melainkan pesan dari tanah jauh di Timur Nusantara, dari Papua, tanah kelahiranku.

Dalam mimpi itu, aku berjalan bersama Kakak Frans Pigome (sebutan penghormatan dalam budaya Papua bagi sosok yang dianggap besar), yang dipercaya sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia juga ada sejumlah pejabat Orang Asli Papua  (OAP) di perusahaan tersebut.

Kami bersama-sama dengan ribuan (OAP). Tokoh adat, pemuda, perempuan, intelektual, rohaniwan, dan di antara mereka hadir pula pemimpin-pemimpin besar Indonesia, dari istana, militer, pengusaha, hingga pejabat publik. Tujuan kami bukan debat, tetapi meninjau wajah pembangunan yang manusiawi di tanah adat Papua.

Seorang pemimpin bertanya:

“Di mana Kampung Harapan itu, Bapa Ibu?”

Dan suara OAP menjawab serempak:

“Harapan itu ada di Papua, di Kabupaten Jayapura.”

Suasana menjadi hening dan hangat. Alam seolah berhenti sejenak untuk mendengarkan kata “Harapan”, doa kolektif yang telah lama menjadi panggilan bagi orang Papua. Di Tanah Papua sendiri terdapat sejumlah kampung dan tempat yang dinamai “Harapan”.

Makna Mimpi: Dari Renungan Pribadi ke Kesadaran Kolektif

Mimpi bukan sekadar gambaran tidur. Dalam berbagai peradaban, mimpi adalah bahasa jiwa, tempat roh manusia bertemu dengan harapan tertingginya.

Filsuf Yunani kuno, Socrates dan Aristoteles, percaya mimpi adalah cermin akal budi yang mencari kebenaran. Socrates menyebut mimpi sebagai “suara ilahi” yang berbicara pada jiwa ketika logika dunia terlelap. Aristoteles melihatnya sebagai pantulan hasrat terdalam manusia untuk mewujudkan eudaimonia, kehidupan yang bermakna.

Dalam perspektif teologis, mimpi dipahami sebagai wahyu kecil, jendela tempat Tuhan menanamkan visi dan harapan. Yusuf dalam Kitab Kejadian menafsirkan nasib bangsanya lewat mimpi, dan Nabi Yoel menulis:

“Anak-anakmu akan bernubuat, orang mudamu akan mendapat penglihatan, dan orang tuamu akan bermimpi.” (Yoel 2:28).

Bagi Orang Asli Papua, mimpi adalah roh harapan kolektif, bentuk komunikasi spiritual antara tanah, leluhur, dan generasi penerus.

 I.S. Kijne, dan Mimpi sebagai Filsafat Kepemimpinan

Dalam kepemimpinan modern, tokoh seperti Martin Luther King Jr. dan Nelson Mandela menunjukkan bahwa mimpi bukan sekadar kata, melainkan kekuatan yang mengubah bangsa. King bernubuat: “I have a dream…”.  Mandela memimpikan sebuah Afrika Selatan yang bebas dari belenggu apartheid.

Kini, di Tanah Papua, mimpi itu menemukan wujud baru. Keadilan, kepercayaan, dan kepemimpinan lokal. Mimpi bahwa suatu hari, tambang besar di tanah adat Amungme, Kamoro, Damal, Dani, Moni, Mee, dan Nduga akan dipimpin oleh anak Papua, bukan karena belas kasihan, tetapi karena kapasitas, integritas, dan kepercayaan.