Damai di Pinggir Jalan
Kamis, 22 Januari 2026 | 12:40 WIT
Oleh : Laurens Minipko
SAYA bertemu seorang mama Papua yang menjual pinang di pinggir jalan.
Setiap hari ia duduk di tempat yang sama. Di bawah panas. Di antara debu dan klakson.
Tangannya cekatan. Wajahnya tenang. Seolah kota ini baik-baik saja.
Suatu hari ia berkata pelan: “Suatu waktu, jualan saya ini masuk videotron.”
Saya terdiam. Sambil memandang videotron yang membelalak di depan.
Ia tidak sedang bermimpi jadi terkenal.
Ia hanya ingin diakui.
Di kota ini, videotron menampilkan banyak hal: wajah pejabat, iklan bank, pajak, jardon damai. Semuanya besar. Semuanya terang.
Tapi mama penjual pinang tidak pernah masuk layar itu.
Padahal ia ada. Di depan videotron. Setiap hari.














