Award dari Perempuan
Dapur melihat dari bawah. Dari tubuh yang sakit.
Dari waktu yang hilang.
Dari beban yang dipikul perempuan.
Opsi Baru
Saya mengambil jarak. Terpotret.
Award datang hanya dari sisi kanan. Tangan kanan. Nalar kanan.
Justru di ordinat ini, saya ingin mengusulkan.
Award, mungkin baik juga, datang dari tangan perempuan yang menanggung beban di dapur.
Saya tidak menolak UHC.
Saya justru menajamkannya.
Karena kalau layanan kesehatan gratis tidak mengurangi beban mama, maka ia hanya gratis di atas kertas.
Kalau akses mudah hanya bagi yang dekat kota, maka kampung tetap membayar dengan tenaga dan waktu.
James C. Scott (1936 – 2024) menyebut ini moral economy.
Ada rasa keadilan hidup yang tak bisa direduksi jadi indikator.
Di kampung, adil berarti:
Orang sakit tidak sendirian,
Perempuan tidak menanggung semua, dan negara tidak hanya hadir lewat spanduk.
Masalahnya, budaya administrasi kita terbiasa menghitung yang bisa dihitung.
Yang tidak bisa dihitung: kerja perawatan, kecemasan, beban emosional, dianggap tidak memiliki angka. Tidak relevan.
Padahal, di situlah kehidupan berlangsung.
Federici menyebut ini warisan panjang kapitalisme: kerja yang tidak menghasilkan angka dianggap bukan kerja.
Akibatnya, award jatuh ke kantor. Beban tetap tinggal di dapur.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya dengan cara lain.
Bukan: seberapa persen warga terdaftar?
Tetapi: apakah mama di kampung lebih ringan bebannya hari ini?
Bukan: berapa penghargaan diterima?
Tetapi: berapa air mata yang berhasil dicegah?
Kalau negara berani memakai ukuran itu, mungkin award akan lebih sedikit.
Tapi keadilan akan lebih terasa, besar, dan banyak.
Karena penghargaan sejati tidak lahir dari podium. Ia lahir ketika dapur tidak lagi jadi tempat paling sunyi menanggung sakit.
Dan itu, kawanku, hanya bisa dinilai dari kampung, oleh perempuan yang selama ini tak pernah diundang ke acara award.
Bolehkah award datang dari tangan perempuan di dapur yang menanggung sakit dan air mata? **














































