Award dari Perempuan
Oleh : Laurens Minipko
SAYA membaca berita itu sambil duduk di dapur.
Bukan dapur hotel berbintang.
Dapur rumah papan. Kompor tua. Panci yang sama dipakai bertahun-tahun.
Terlihat jelas. Papua Tengah meraih UHC Award 2026. Penghargaan layanan kesehatan gratis. Berbasis KTP dan KK. Ada safety.
Saya mengangguk. Mmmmmmmm…
Lalu saya bertanya pelan: siapa yang paling dulu merasakan layanan itu?
Hidup Tetap Menyala karena Perempuan
Di kampung, urusan kesehatan selalu bermula dari perempuan.
Bukan dari kantor.
Bukan dari aplikasi.
Dari dapur.
Mama yang menghitung beras.
Mama yang menimbang sakit.
Mama yang memutuskan: ke puskesmas sekarang atau menunggu besok.
Negara nyaris jarang menghitung kerja itu.
Padahal di situlah kebijakan diuji.
Teori feminisme menyebutnya kerja perawatan (care work).
Silvia Federici (1942) mengingatkan: kerja yang menjaga hidup: memasak, merawat, menunggu orang sakit adalah kerja paling vital, tapi paling sering tak diakui.
Dalam bahasa kampung, itu sederhana: hidup tetap menyala karena perempuan.
Tapi dalam sistem award, kerja itu tidak punya kolom penilaian, bahkan tidak punya panggung.
UHC Award bekerja dengan ANGKA.
Jumlah peserta. Persentase cakupan.
Anggaran terserap.
Dapur, dimana perempuan bernafas dengan sesak, bekerja dengan RASA.
Apakah hari ini bisa masak?
Apakah besok masih ada uang ojek?
Apakah besok bisa menemani anak ke puskesmas tanpa meninggalkan pekerjaan rumah?
Di sinilah jarak cara bekerja itu terasa.
Bell hooks (1952 – 2021) pernah menulis: ketidakadilan sering bertahan bukan karena kejam, tetapi karena tidak pernah dilihat dari bawah.
Award di hotel melihat dari ATAS.
Dari provinsi. Dari kabupaten.
Dari laporan. Dari statistik dan tabel.
Dari presentasi.
Dapur melihat dari bawah. Dari tubuh yang sakit.
Dari waktu yang hilang.
Dari beban yang dipikul perempuan.
Opsi Baru
Saya mengambil jarak. Terpotret.
Award datang hanya dari sisi kanan. Tangan kanan. Nalar kanan.
Justru di ordinat ini, saya ingin mengusulkan.
Award, mungkin baik juga, datang dari tangan perempuan yang menanggung beban di dapur.
Saya tidak menolak UHC.
Saya justru menajamkannya.
Karena kalau layanan kesehatan gratis tidak mengurangi beban mama, maka ia hanya gratis di atas kertas.
Kalau akses mudah hanya bagi yang dekat kota, maka kampung tetap membayar dengan tenaga dan waktu.
James C. Scott (1936 – 2024) menyebut ini moral economy.
Ada rasa keadilan hidup yang tak bisa direduksi jadi indikator.
Di kampung, adil berarti:
Orang sakit tidak sendirian,
Perempuan tidak menanggung semua, dan negara tidak hanya hadir lewat spanduk.
Masalahnya, budaya administrasi kita terbiasa menghitung yang bisa dihitung.
Yang tidak bisa dihitung: kerja perawatan, kecemasan, beban emosional, dianggap tidak memiliki angka. Tidak relevan.
Padahal, di situlah kehidupan berlangsung.
Federici menyebut ini warisan panjang kapitalisme: kerja yang tidak menghasilkan angka dianggap bukan kerja.
Akibatnya, award jatuh ke kantor. Beban tetap tinggal di dapur.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya dengan cara lain.
Bukan: seberapa persen warga terdaftar?
Tetapi: apakah mama di kampung lebih ringan bebannya hari ini?
Bukan: berapa penghargaan diterima?
Tetapi: berapa air mata yang berhasil dicegah?
Kalau negara berani memakai ukuran itu, mungkin award akan lebih sedikit.
Tapi keadilan akan lebih terasa, besar, dan banyak.
Karena penghargaan sejati tidak lahir dari podium. Ia lahir ketika dapur tidak lagi jadi tempat paling sunyi menanggung sakit.
Dan itu, kawanku, hanya bisa dinilai dari kampung, oleh perempuan yang selama ini tak pernah diundang ke acara award.
Bolehkah award datang dari tangan perempuan di dapur yang menanggung sakit dan air mata? **














































