Timika,papuaglobalnews.com – Mendukung pertumbuhan ekonomi di bidang penyediaan jasa manufaktur, 105 warga Kabupaten Mimika dari berbagai kalangan dilatih menjadi calon Wirausaha Baru (WUB) yang bergerak di tiga bidang industri kecil. Pelatihan tersebut dikemas dalam kegiatan Penumbuhan dan Pengembangan Wirausaha Baru Kecil Industri di Papua Tengah.

Kegiatan yang digagas Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika ini berlangsung selama empat hari, mulai Rabu hingga Sabtu, 2-5 September 2026, di salah satu hotel di Timika.

Pelatihan tersebut menggunakan komposisi 30 persen teori dan 70 persen praktik.

Adapun tiga bidang yang dilatih yakni pengolahan kue, sablon atau percetakan kain, serta jasa service AC. Pelaksanaan praktik berlangsung di SMK Filadelfia.

Hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut di antaranya Direktur Industri Aneka Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian Reny Meilany, Staf Ahli Bupati Mimika Petrus Pali Ambaa, serta Anggota DPR RI Komisi VII Arjuna Zakir, SE., MM dan Eko Prasetyo selaku Ketua Tim Kerja Progran dan evaluasi, Direktorat Industri Aneka Kementerian Perindustrian RI dan drh. Sabelina Fitrianis, M.Si, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Mimika.

Direktur Industri Aneka Ditjen Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian, Reny Meilany, menjelaskan pemerintah melalui Kementerian Perindustrian lebih memilih memberikan pelatihan atau bimbingan teknis (Bimtek) dibandingkan bantuan anggaran yang sifatnya cepat habis.

“Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian hanya memberikan pelatihan. Kami tidak memberikan anggaran yang sifatnya cepat habis. Kalau anggaran, seolah-olah kita tidak tahu nanti arahnya ke mana. Dengan kami melakukan langsung dalam bentuk pelatihan atau bimtek, kami rasa jauh lebih bermanfaat karena sudah jelas nanti teman-teman yang kami dorong ini menjadi wirausaha baru,” jelasnya.

Menurutnya, para peserta diharapkan mampu berkembang dan sebagian di antaranya dapat menciptakan lapangan kerja baru di Kabupaten Mimika.

“Kami lebih cenderung di pusat ini memberikan langsung bentuknya pelatihan atau bimtek dibandingkan lewat anggaran. Kalau anggaran mungkin lebih cenderung pemerintah daerah untuk mampu melanjutkan apa yang sudah kami berikan dari Kementerian Perindustrian. Agar nanti keberlanjutannya di daerah bisa didukung dengan anggaran dari Pemda,” katanya.

Reny menjelaskan, kegiatan Penumbuhan Wirausaha Baru tersebut berlangsung selama empat hari. Pada hari pertama peserta mendapatkan materi terkait kewirausahaan, pembiayaan, akses pasar, serta perizinan dan legalitas usaha.

Setelah itu dilakukan kurasi peserta untuk mengikuti bimtek sesuai bidang yang dipilih.

“Untuk kegiatan penumbuhan WUB ini memang selalu selama empat hari. Satu harinya adalah pemberian materi. Tadi sudah disampaikan terkait kewirausahaan, pembiayaan, akses pasar dan juga perizinan atau legalitas,” jelasnya.

Selanjutnya dilakukan kurasi peserta. Dari total peserta, masing-masing komoditi diikuti sekitar 35 orang.

“Kami bagi komoditinya ada tiga, yaitu pengolahan makanan dan minuman, kerajinan sablon, dan jasa service AC. Masing-masing 35 peserta,” katanya.

Dijelaskan, dari 35 peserta di masing-masing bidang tersebut, pelaksanaan bimtek dilakukan selama tiga hari. Peserta akan mendapatkan materi sekaligus praktik di unit-unit pelatihan yang berkaitan dengan masing-masing komoditi.

“Bimtek ini dilakukan di unit-unit pelatihan yang terkait dengan komoditi tadi. Ada tempat untuk mereka melakukan bimtek sekaligus praktik. Ini pun sudah diberikan instruktur dari mereka yang ahli di bidangnya,” jelas Reny.

Terkait tenaga instruktur, Reny mengatakan pihaknya mengutamakan tenaga yang memiliki kompetensi berasal dari Timika. Namun, apabila tenaga yang memiliki kompetensi sesuai bidang belum tersedia, pihaknya akan mendatangkan instruktur dari daerah lain yang tidak terlalu jauh dari Mimika.

Menurutnya, hal tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan efisiensi, sehingga tidak harus mendatangkan instruktur dari daerah yang jauh seperti Jakarta.

“Karena agak repot kalau misalkan didatangkan dari Jakarta. Setidaknya mereka yang punya kompetensi, paham dengan potensi yang ada di Papua, khususnya di Mimika,” ujarnya.

Reny berharap setelah pelatihan selesai, Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan dapat memberikan pendampingan lebih lanjut kepada para peserta.

Ia menilai perlu dilakukan pemantauan dan evaluasi terhadap perkembangan peserta setelah mengikuti pelatihan, termasuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi ketika mulai menjalankan usaha.

Menurutnya, pemantauan dan evaluasi penting untuk mengetahui apakah peserta mengalami kendala ketika terjun langsung menjadi wirausaha baru.

“Apakah kemudian ada kendala pada saat mereka akan terjun langsung untuk membuat wirausaha baru. Apakah ada kendala dari sisi peralatan, bahan baku, atau bahkan pembiayaan. Kami harapkan ada sinergi yang cukup baik dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan tentu saja dari Pemda untuk menindaklanjuti dan bahkan meneruskan apa yang sudah kami lakukan melalui bimtek ini,” jelasnya.

Reny juga menjelaskan pemilihan tiga bidang pelatihan tersebut dilakukan untuk meminimalisir persoalan mahalnya bahan baku sekaligus menyesuaikan dengan potensi yang tersedia di Kabupaten Mimika.

“Pemilihan komoditi ini sebenarnya untuk meminimalisir permasalahan bahan baku mahal. Makanya lebih cenderung ke pengolahan makanan dan minuman yang paling tidak sumber dayanya sudah ada di sini,” jelasnya.

Menurutnya, bidang sablon juga tidak membutuhkan bahan baku yang terlalu sulit diperoleh.

“Untuk kerajinan sablon tidak perlu bahan baku yang terlalu banyak. Karena memang hanya tinta sablon dan bahan seperti baju untuk disablon. Menurut kami tidak terlalu jauh bedanya dengan yang lain,” katanya.

Ia menyebutkan, berbeda halnya dengan produk yang bahan bakunya tidak tersedia di Mimika, misalnya dari sektor pertanian atau perikanan tertentu, yang berpotensi terkendala harga.

“Kalau produk yang tidak dihasilkan di sini dari sisi pertanian, perikanan atau apa pun yang mungkin tidak dihasilkan di Mimika, itu mungkin akan terkendala dengan harga,” ujarnya.

Ia menambahkan, potensi sumber daya yang dimiliki Mimika menjadi salah satu pertimbangan Kementerian Perindustrian mendorong program Penumbuhan dan Pengembangan Wirausaha Baru di daerah tersebut.

“Mimika memiliki potensi. Untuk pengolahan makanan dan minuman, misalnya, lautannya di sini cukup banyak dan ikan melimpah.

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.