Timika,papuaglobalnews.com – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI melaksanakan pendampingan  terhadap Pemerintah Kabupaten Mimika, Papua Tengah yang dirangkai dalam Focus Group Discassion (FGD) terkait pengelolaan Dana Alokasi Umum Spesifik Grant (DAU SG) bidang kesehatan dan dana Treasury Deposit Facility (TDF), sekaligus melakukan monitoring dan evaluasi pemanfaatan DAU SG dalam pemenuhan layanan dasar kesehatan, efektivitas penggunaan dana TDF yang telah diarahkan penggunaannya, serta inventarisasi awal Dana Bagi Hasil (DBH) non-earmarked untuk peningkatan infrastruktur daerah.

Kegiatan yang berkolaborasi dengan SKALA tersebut berlangsung di ruang rapat Kantor Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Mimika, Kamis 16 Juli 2026.

Aditya Nuryuslam, Ketua Tim Kebijakan dan Evaluasi Dana Transfer Umum Kementerian Keuangan, mengatakan FGD ini bertujuan memberikan edukasi mengenai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 35 Tahun 2026 tentang pengelolaan DAU dan DBH, sekaligus melakukan monitoring dan evaluasi penggunaan DBH earmarked bidang kesehatan.

“Nanti kami akan turun ke lapangan untuk mengecek kondisi yang sebenarnya. Apa saja kekurangan yang dihadapi di lapangan akan menjadi bahan masukan kepada pimpinan dalam mengambil kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan daerah,” ujar Aditya kepada wartawan di sela-sela kegiatan.

Ia menjelaskan, selain melakukan pengecekan langsung di lapangan, hasil monitoring nantinya juga akan dipublikasikan kepada masyarakat melalui media sebagai bentuk transparansi penggunaan dana DAU earmarked, baik untuk sektor kesehatan maupun infrastruktur.

Menurutnya, tahap awal dilakukan dengan menerima laporan dari masing-masing OPD pengelola dana earmarked. Data tersebut kemudian dianalisis dan diverifikasi melalui kunjungan lapangan guna mencocokkan laporan dari OPD dengan kondisi riil serta masukan dari masyarakat.

“Kalau hasil di lapangan sesuai dengan laporan, berarti laporan tersebut benar. Namun apabila ditemukan ketidaksesuaian, akan dicari penyebabnya sehingga dapat menjadi bahan penyusunan kebijakan pemerintah dalam pengelolaan DAU SG,” jelasnya.

Aditya menambahkan, melalui FGD, monitoring, evaluasi, hingga kunjungan lapangan, berbagai kebutuhan daerah seperti kekurangan tenaga kesehatan, dokter, maupun fasilitas di tingkat puskesmas dapat dipetakan dan menjadi pertimbangan pemerintah dalam menetapkan program prioritas sesuai kebutuhan daerah.