Oleh: John NR Gobai, Waket IV DPR PT

KUGAPA dan Pagopugaida di hulu Sungai Weya, Kabupaten Paniai, merupakan tempat awal Gereja Katolik mulai diwartakan di wilayah Pegunungan Papua Tengah.

Pagopugaida dan Pater Kamarer adalah dua nama yang sangat akrab di telinga umat Katolik di Paniai. Keduanya tidak dapat dipisahkan dari sejarah kehadiran perusahaan penerbangan milik misi Katolik yang dikenal dengan nama AMA.

Pada tahun 1938, Pastor Herman Tilemans, MSC, datang dan bermalam di Kampung Kugapa sebelum menuju Iyaitaka untuk mengadakan misa pertama di Paniai. Pada tahun yang sama, Pastor Tilemans juga membawa dua guru pertama yang ditempatkan di Kugapa dan Enagotadi.

Lima tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1942, Gereja membuka Sekolah Rakyat di Kugapa dan Enagotadi. Guru pertama yang mengajar saat itu adalah Tete IB Meterai.

Perkembangan misi di wilayah ini kemudian beralih dari Kongregasi MSC kepada OFM. Selanjutnya, Pastor Tilemans membawa dua imam OFM, yakni Pater Kamarer dan Pater Bruisma, untuk melanjutkan karya pelayanan misi di wilayah tersebut.

Pagopugaida

Pada awal tahun 1950-an, Pater Misael Kamarer tinggal di Kugapa. Suatu ketika, saat berada di Watamakebo bersama Ebaiye Zonggonau, Pater Kamarer melihat sebuah lokasi dengan perbukitan yang indah. Ia kemudian bertanya mengenai nama tempat tersebut dan siapa pemiliknya. Ebaiye menjawab bahwa tanah itu adalah miliknya.

Mendengar jawaban tersebut, Pater Kamarer menginginkan lokasi itu dijadikan area pastoran. Hingga saat ini, para orang tua di Kugapa masih mengingat dengan baik lokasi bekas rumah Pater Misael Kamarer yang oleh masyarakat Mee disebut Pagopugaida.