Oleh: Laurens Minipko (Pengamat Sosial dan Politik Tinggal di Timika Papua Tengah)

 

PERTARUNGAN antara gerakan sipil dan pemerintah Prabowo lebih dari sebatas kebijakan. Ini adalah perebutan atas ruang, waktu, dan logika politik itu sendiri.

Pada suatu titik di tengah 2026, sesuatu bergeser. Mahasiswa turun ke jalan kota bukan untuk pertama kalinya, tentu – tetapi kali ini jalanan bukan lagi satu-satunya medan. Demonstrasi fisik di jantung Ibu Kota Negara di Bundaran HI berlangsung bersamaan dengan gelombang tagar di X, video pendek di TikTok, dan infografis yang menyebar di grup WhatsApp kerabat, teman, perkumpulan, dan sebagainya. Gerakan itu hadir di mana-mana dan tidak di mana-mana sekaligus. Ia tidak punya kepala yang bisa dipenggal, tidak punya kantor yang bisa digeledah.

Lalu, pemerintah melakukan sesuatu yang tidak biasa: mereka ikut terjun ke dalam arus itu.

Dua Dunia yang Bertabrakan

Manuel Castell, sosiolog Spanyol yang menghabiskan puluhan tahun mengamati bagaimana kekuasaan bekerja di era informasi – dalam karyanya The Rise of the Network Society (1996), menulis tentang dua jenis ruang yang kini hidup berdampingan dan saling bertarung. Yang pertama adalah space of places: ruang geografis yang konkret, istana negara, podium presiden, gedung parlemen, meja perundingan. Yang kedua adalah space of flows: ruang yang diorganisir bukan oleh kedekatan fisik, melainkan oleh aliran informasi, gambar, kemarahan, harapan, yang bergerak melampaui batas kota dan negara dalam hitungan detik.

Selama puluhan tahun, negara nyaman beroperasi di space of places. Kekuasaan diumumkan dari podium, kebijakan ditandatangani di ruang tertutup, legitimasi dibangun melalui upacara dan protokol. Rakyat datang ke negara, bukan sebaliknya.

Gerakan mahasiswa dan sipil 2026 membalik logika itu. Mereka tidak menunggu diundang ke meja perundingan. Mereka membangun mejanya sendiri di ruang arus, di platform yang algoritma-nya lebih cepat dari siaran pers mana pun.

Simon Gotte, teoris media asal Inggris, dalam karyanya Transnational Protests and the Media (2011), menyebutnya sebagai mediatized protest: demonstrasi modern tidak sebatas menggunakan media sebagai corong, melainkan dirancang menurut logika media itu sendiri. Sebuah aksi akan dilakukan bukan hanya karena bermakna secara politik, tetapi karena ia layak tayang dramatis secara visual, ringkas dalam pesan, mudah diviralkan. Makna dan medium telah menjadi satu.

Gerakan Tanpa Alamat

Ini yang membuat gerakan sipil Indonesia 2026 berbeda dari pendahulunya. Reformasi 1998 punya lokus yang jelas: mahasiswa menduduki Gedung DPR, tokoh-tokoh bernegosiasi di ruang tertentu, tuntutan disampaikan dalam dokumen formal. Ada alamat yang bisa dituju, ada kepala yang bisa diajak bicara.

Gerakan kali ini beroperasi secara rhizomatic meminjam istiliah Deleuze dan Guattari – seperti akar rumput yang tumbuh ke segala arah tanpa titik pusat. BEM dari berbagai universitas bergerak paralel dengan kelompok-kelompok informal anonim. Akun-akun tanpa nama bisa memiliki pengaruh setara dengan media nasional. Solidaritas diaspora di luar negeri ikut mengisi ruang arus yang sama.

Castells menyebut fenomen ini dalam Networks of Outrage and Hope (2012): Gerakan jaringan bertahan bukan karena kekuatan organisasi, melainkan karena ketiadaan organisasi tunggal yang bisa dilumpuhkan. Kelemahannya adalah cermin dari kekuatannya: ia sulit dipenggal, tetapi juga sulit mengkonsolidasi tuntutan menjadi perubahan struktural yang konkret.

Negara Masuk ke Jaringan

Di sinilah manuver Budiman Sujatmiko dan sejumlah figur lain yang berafiliasi dengan pemerintah menjadi menarik untuk dibedah.

Budiman bukan sembarang nama. Ia adalah mantan aktivis, mantan tahanan politik Orde Baru, seorang yang pernah berdiri di sisi yang sama dengan gerakan mahasiswa. Ketika ia turun ke ruang publik untuk merespons gerakan sipil bukan melalui konferensi pers resmi pemerintah, melainkan melalui wawancara, diskusi, dan platform media sosial, sesuatu yang lebih dari sebatas counter-narasi sedang berlangsung.

Dalam kerangka Casttels, ini bisa dibaca sebagai upaya  nodal capture: membuat simpul-simpul berpengaruh dalam jaringan. Jika gerakan sipil mendapatkan legitimasinya dari jaringan, maka cara paling efektif untuk melemahkannya bukan dengan menghadapinya secara frontal dari space of place, melainkan dengan masuk ke dalam jaringan itu sendiri dan mengubah arahnya dari dalam.