Figur seperti Budiman adalah aset strategis untuk operasi semacam ini. Ia membawa credibility capital yang tidak dimiliki juru bicara pemerintah konvensional: rekam jejak perlawanan, bahasa yang familiar di kalangan aktivis, dan kemampuan untuk berbicara dalam register yang sama dengan gerakan yang hendak direspons.

Memproduksi Timeless Time

Tetapi ada dimensi lain dari manuver ini yang lebih halus dan lebih dalam dampaknya.

Castelles menulis tentang Timeless time: kondisi di mana waktu dikompress, diacak, dan dibuat tidak linear oleh arus informasi digital. Masa lalu, kini, dan masa depan hadir simultan dalam satu feed. Akibatnya, kemampuan publik untuk membandingkan “janji kemarin dengan kenyataan hari ini” menjadi kabur bukan karena rakyat tidak cerdas, melainkan karena arsitektur informasi itu sendiri tidak dirancang untuk memori jangka panjang.

Ketika pemerintah mendorong narasi tentang program-programnya, Makan Bergisi Gratis, Proyek Strategis Nasional ke dalam ruang arus yang sama, yang sedang diproduksi adalah efek keabadian: seolah program-program ini bukan kebijakan baru yang masih bisa diperdebatkan, dievaluasi, atau dibatalkan, melainkan kondisi yang sudah ada dan tidak perlu dipertanyakan kronologinya.

Dalam logika timeless time, pertanyaan “apakah ini sudah terbukti berhasil?” menjadi semakin sulit diajukan karena waktu itu sendiri tidak lagi berjalan lurus.

Masalah yang Tersisa

Namun ada tegangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan strategi jaringan.

Cottle mengingatkan bahwa gerakan sosial modern berjalan dengan bahan bakar emosi, kemarahan dan harapan, bukan argumen rasional. Ketika pemerintah mencoba merespons dengan membawa diskursus ke ranah kebijakan, angka gizi anak, rincian PSN, proyek pertumbuhan ekonomi, nilai rupiah stabil, tujuan baik Koperasi Merah Putih, mereka sedang bermain di medan yang berbeda dari medan tempat gerakan itu hidup.

Gerakan mahasiswa tidak bergerak karena mereka belum membaca buku putih kebijakan pemerintah. Mereka bergerak karena ada sesuatu yang mereka rasakan sebagai ketidakadilan dan perasaan itu menyebar melalui jaringan jauh lebih cepat dari sanggahan faktual mana pun.

Di sisi lain, gerakan sipil menghadapi masalahnya sendiri. Kekuatan jaringan yang rhizomatic menjadi kelemahan struktural ketika tiba saatnya bernegosiasi. Siapa yang berbicara atas nama jaringan? Tuntutan apa yang bisa dianggap mewakili keseluruhan? Tanpa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, energi yang terkumpul di space of flow berisiko menguap tanpa mengubah apapun yang ada di space of place.

Pertarungan yang Sebenarnya

Yang sedang kita saksikan, pada akhirnya, bukan hanya debat tentang program makan siang gratis atau proyek strategis  atau proyek infrastruktur. Yang sedang berlangsung adalah pertarungan atas tiga hal sekaligus.

Ruang mana yang sah untuk berpolitik – jalanan dan gedung formal, atau platform digital dan jaringan informal? Waktu mana yang berlaku – kronologi akuntabilitas yang memungkinkan publik menagih janji, atau timeless time yang membaut semua program terasa sudah ada sejak dulu? Siapa yang berhak menjadi simpul berpengaruh dalam jaringan sosial yang menentukan opini publik?

Bahwa pemerintah merasa perlu untuk masuk ke dalam jaringan. Alih-alih hanya berdiri di podium dan menunggu rakyat mendengarkan adalah pengakuan implisit yang penting. Ia menunjukkan bahwa legitimasi kini tidak lagi cukup diklaim dari space of places. Ia harus dimenangkan, terus-menerus, di dalam arus yang tidak pernah berhenti mengalir.

Pertanyaan yang tersisa adalah apakah masuknya aktor negara ke dalam jaringan akan mengubah karakter jaringan itu sendiri atau apakah jaringan yang akan mengubah mereka.

Sejarah gerakan sosial memberi kita alasan untuk tidak terlalu yakin dengan jawaban yang mudah. (*)