Nakes Pustu dan Klinik di Mimika Dibekali Pengetahuan Skrining Penanganan TB DOTS
Timika,papuaglobalnews.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) membekali sekitar 20 tenaga kesehatan (Nakes) yakni doker dan perawat dari Puskesmas Pembantu (Pustu) dan klinik pemerintah dengan pengetahuan skrining dan penanganan Tuberkulosis (TB) menggunakan strategi Directly Observed Treatment, Short-course (DOTS) di salah satu hotel di Timika.
Kegiatan yang dikemas dalam Workshop TB DOTS tersebut dilaksanakan selama dua hari, Selasa-Rabu (2-3 Juni 2026) untuk gelombang pertama dari wilayah perkotaan. Sementara gelombang kedua bagi tenaga kesehatan Pustu wilayah pesisir dan pegunungan dijadwalkan berlangsung pada Kamis-Jumat (4-5 Juni 2026).
TB DOTS merupakan strategi pengobatan standar yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menyembuhkan Tuberkulosis (TBC). Metode ini memastikan pasien meminum obat secara tuntas dalam jangka waktu sekitar enam bulan dengan pendampingan Pengawas Menelan Obat (PMO) guna mencegah terjadinya resistensi obat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Golfried Maturbongs, dalam arahannya menegaskan bahwa peserta workshop merupakan orang-orang pilihan yang dipercaya untuk membantu masyarakat dalam menjaga dan memulihkan kesehatan.
Menurutnya, tugas tenaga kesehatan bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bentuk pelayanan kemanusiaan yang mulia.
Golfried juga memberikan pesan moral kepada para peserta agar selalu bersyukur kepada Tuhan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai tenaga kesehatan.
“Dalam setiap tarikan napas kita harus selalu bersyukur atas penyelenggaraan Tuhan. Melalui pelatihan ini Tuhan mempercayakan kita untuk membantu menyelamatkan umat-Nya yang sedang mengalami sakit, termasuk penderita TB,” ujarnya.
Ia mengingatkan peserta agar tidak mengabaikan tugas dan tanggung jawab yang diemban karena kesempatan mengikuti pelatihan tersebut merupakan bagian dari proses untuk meningkatkan kapasitas dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Selain itu, Golfried menekankan pentingnya membangun komunikasi dua arah yang baik dengan masyarakat sehingga pesan-pesan kesehatan yang disampaikan dapat diterima dan dipahami dengan baik.
Ia juga berpesan agar seluruh peserta mengikuti pelatihan dan menjalankan pekerjaan dengan penuh sukacita dan ketulusan hati sehingga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan secara maksimal dalam pelayanan sehari-hari.
“Jika bekerja dengan penuh sukacita dan sepenuh hati, maka ilmu yang didapat akan lebih mudah diterapkan dalam pelayanan. Sebaliknya, jika dilakukan dengan terpaksa, hasilnya tidak akan maksimal,” katanya.
TBC Masih Menjadi Masalah Kesehatan Dunia
Sementara Kamaludin, Kepala Seksi P2P menjelaskan, berdasarkan Global TB Report 2023 yang diterbitkan WHO, Tuberkulosis masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama dunia. Pada tahun 2022, TBC menjadi penyebab kematian akibat penyakit menular tertinggi kedua di dunia setelah COVID-19.
Lebih dari 10 juta orang terjangkit TBC setiap tahun. Tanpa pengobatan yang memadai, angka kematian akibat TBC dapat mencapai sekitar 50 persen. Secara global, pada tahun 2022 TBC menyebabkan sekitar 1,3 juta kematian.
Ia menambahkan, WHO mencatat sekitar 85 persen kasus TBC dapat disembuhkan melalui pengobatan yang direkomendasikan. Pada tahun yang sama, sebanyak 7,5 juta orang didiagnosis menderita TBC.
















