Timika,papuaglobalnews.com – Pembentukan Lembaga Masyarakat Hukum Adat (LMHA) Mimika Wee Periode 2025-2030 resmi dilaksanakan di Tongkonan selama dua hari, Rabu-Kamis 3-4 Desember 2025 setelah dibuka oleh Pj. Sekda Mimika Abraham Y. Kateyau mewakili Bupati Mimika Johannes Rettob.

Musdat diawali ritual adat penjemputan Pj. Sekda di halaman Tongkonan dengan membuka daun kelapa serta melemparkan bubuk sagu.

Masyarakat mengantar Pj. Sekda masuk kedalam Tongkonan diiringi tarian adat Kamoro. Hadir menyambut kedatangan Pj. Sekda tokoh masyarakat adat suku Kamoro diantaranya Fredy Sonny Atiamona, Yohanes Yance Boyau dan Philipus Monaweyuw serta masyarakat Kamoro lainnya.

Philipus Monaweyuw selaku pendiri LMHA Mimika Wee menegaskan hari ini harus Musdat pembentukan LMHA. Kehadiran lembaga ini untuk selamatkan sumber daya alam (SDA) masyarakat adat Kamoro sekaligus mempertahankan harkat dan martabat masyarakat dalam menjaga tapal batas Mimika.

Ia bersyukur kepada Tuhan yang telah mengetuk pintu hati dan membuka pikiran yang baik kepada pemerintah untuk mendukung kegiatan ini.

“Kita sayang manusia Kamoro,” ujarnya.

Dari hati yang paling dalam, Philipus mengungkapkan dirinya sudah berusia lanjut tetapi sebelum menutup mata harus mewariskan sesuatu yang berharga untuk masyarakat Kamoro.

Sementara Yohanes Yance Boyau dalam pernyataan adat mengungkapkan semua harus memiliki komitmen yang sama sukseskan pembentukan lembaga ini karena perannya jauh lebih besar daripada Lemasko yang dibentuk sejak tahun 1996 lalu.

“Kami buat untuk kepentingan anak cucu. Mari kita dukung acara ini,” katanya.

Yance juga mengajak kepada semua pihak  sama-sama menjaga keamanan tanpa ada keributan.

“Kami peduli lembaga ini demi generasi dan anak cucu kedepan. Kalau kami tidak tunjukkan arah yang benar bagaimana dengan masa depan anak cucu Kamoro kedepan,” ujarnya.

Elisabeth  Yeimaya mewakili tokoh perempuan dalam pernyataan adatnya berharap siapapun yang terpilih menjadi pemimpin dapat bekerja melindungi hak-hak kesulungan masyarakat Kamoro demi menyelamatkan masa depan anak cucu.

Agustinus Wauketeyau menyampaikan pesan adat dengan melantunkan lagu dalam bahasa Kamoro yang musik tifa dan tarian.