Jakarta,papuaglobalnews.com –  Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Tahun 2026 kembali mengirimkan mahasiswa untuk menjalankan pengabdian masyarakat di wilayah Timur Indonesia.

Sebanyak 29 mahasiswa lintas fakultas akan melaksanakan program pengabdian di Distrik Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, dengan mengusung tema “Optimalisasi Sumber Daya Lokal melalui Pendekatan Sustainable Livelihoods Berbasis Blue Governance guna Mewujudkan Keseimbangan Ekosistem, Pangan, dan Ekonomi, serta Kesejahteraan Masyarakat di Distrik Waisai, Kabupaten Raja Ampat.”

Program KKN Sorai Waisai 2026 hadir dengan semangat membangun dari potensi lokal. Raja Ampat selama ini dikenal dunia melalui kekayaan biodiversitas laut dan bentang alamnya yang unik. Namun, di balik potensi tersebut, masih terdapat tantangan dalam pengelolaan sumber daya, pemerataan pembangunan, penguatan ekonomi masyarakat, hingga akses terhadap pengembangan kapasitas lokal yang berkelanjutan.

Berangkat dari kondisi tersebut, Tim KKN-PPM UGM Sorai Waisai Tahun 2026 akan mengembangkan berbagai program berbasis sustainable livelihoods atau penghidupan berkelanjutan yang berfokus pada keseimbangan antara aspek ekologi, ekonomi, dan sosial masyarakat.

Program akan dijalankan di empat kelurahan, yakni Bonwakir, Sapordanco, Waisai Kota, dan Warmasen, dengan menggunakan pendekatan partisipatif masyarakat dan pemerintah setempat. Beberapa fokus utama kegiatan meliputi penguatan tata kelola wisata dan sumber daya pesisir, edukasi lingkungan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pengembangan promosi digital potensi lokal, peningkatan kapasitas generasi muda, hingga pengelolaan limbah dan teknologi ramah lingkungan.

Selain itu, mahasiswa KKN juga akan terlibat dalam pendampingan masyarakat dan penguatan kolaborasi multipihak untuk mendukung pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, Koordinator Mahasiswa Unit Tim Sorai Waisai 2026, Ihza Wijaya, menilai bahwa kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari masyarakat sekaligus meninggalkan jejak pengabdian.

“Bagi kami, KKN bukan sekadar program pengabdian, melainkan juga ruang untuk saling belajar. Kami berharap dapat berjalan bersama masyarakat Waisai, menghargai kearifan lokal, dan meninggalkan jejak yang dapat dilanjutkan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Dalam proses persiapan program kerja, Tim KKN-PPM Sorai Waisai juga telah membangun komunikasi intensif dengan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat efektivitas pelaksanaan program sekaligus membuka ruang sinergi jangka panjang antara perguruan tinggi dan masyarakat daerah.

Melalui KKN-PPM tahun 2026, Universitas Gadjah Mada kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan pengabdian masyarakat sebagai bagian penting dari kontribusi akademik dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia. **