Wujudkan Ramadan 1447 H yang Sejuk, 102 Da’i di Mimika Dipesan Jauhkan Dakwah yang Menimbulkan Polarisasi dan Jaga Keharmonisan
Timika,papuaglobalnews.com – Dalam upaya mewujudkan Ramadan yang sejuk dan kondusif serta menyatukan langkah dakwah di Bumi Amungsa dan Tanah Kamoro, sebanyak 102 da’i di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mengikuti kegiatan refreshing dakwah Ramadan 1447 Hijriah yang berlangsung sehari di Aula MI At-Taqwa, Jalan Pattimura, Minggu 15 Februari 2026.
Kegiatan bertema “Silaturahmi Da’i: Membumikan Harmoni Ramadan dalam Rangka Meningkatkan Kapasitas dan Integritas Da’i” ini digagas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mimika bersama Forum Mubaligh, Imam dan Guru-Guru Ngaji (FORMIGG) Mimika.
Tiga narasumber hadir memberikan materi, yakni Al Habib Helmi bin Khalid Kaf, Lc yang membawakan prinsip Al-Qudwah dengan penekanan pada keteladanan sebelum berdakwah, Kiyai Moh Ramli, S.Kom.I tentang manajemen dakwah berjamaah, kepemimpinan (leadership), kerja tim, serta peningkatan kapasitas keilmuan dan KH. Muh. Amin AR, S.Ag, S.Pd, MM, M.Pd yang menyampaikan materi motivasi dan penguatan ruhiyah serta pentingnya menjaga tradisi menuntut ilmu.
Ketua Umum MUI Mimika, KH. Muh. Amin AR dalam arahannya menyampaikan kegiatan tersebut serupa dengan pola pembinaan yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto terhadap para kepala daerah melalui agenda penyegaran dalam suasana santai namun tetap substansial.
Ia menekankan selama bulan suci Ramadan, para da’i tidak boleh terpusat hanya di satu titik, tetapi harus menyebar ke berbagai masjid di Mimika agar syiar Islam merata dan umat dapat meraih kemenangan bersama.
“Sebagai tokoh dan da’i mestinya memahami politik. Kalau kita tidak mengerti politik, maka ujung-ujungnya kita akan dipolitiki. Namun para da’i tidak boleh terlibat dalam politik praktis,” ujarnya diselingi nada guyon.
Menurutnya, memahami sistem politik adalah hal penting, karena dalam Islam politik diajarkan. Namun, menggunakan sarana ibadah untuk kepentingan politik praktis tidak dibenarkan.
Terkait penetapan awal Ramadan, Amin menyampaikan bahwa kemungkinan besar Pemerintah Pusat melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akan mengumumkan 1 Ramadan 1447 H pada Kamis, 19 Februari 2026. Hal itu didasarkan pada posisi hilal dari Sabang sampai Merauke yang masih berada di bawah ufuk.
“Meski menggunakan alat secanggih apa pun, jika hilal masih di bawah ufuk akan sulit terlihat. Kita menghargai kemajuan ilmu pengetahuan melalui hisab, tetapi tidak boleh mengesampingkan Al-Qur’an dan hadis,” tegasnya.
Ia berharap hasil penetapan pemerintah dapat menghilangkan perbedaan di tengah umat. Amin juga mengungkapkan pada tahun 2025, Bupati Mimika menerima penghargaan sebagai daerah terharmonis di Tanah Papua. Karena itu, ia meminta para da’i dalam setiap ceramahnya senantiasa mencerminkan nilai-nilai keharmonisan.
“Jangan sampai setelah ceramah justru memicu perdebatan. Selama ini da’i di Mimika sangat baik dan tetap bersama umatnya,” katanya.
Ia bahkan menyatakan kebanggaannya terhadap para da’i lokal yang dinilainya lebih konsisten mendampingi umat dibandingkan sebagian da’i dari luar daerah yang hanya datang sesaat.
Amin juga menegaskan bahwa materi dakwah selama 30 hari Ramadan pada dasarnya sama, hanya berbeda dalam waktu dan gaya penyampaian. Hal ini penting agar para da’i tetap berada dalam satu irama dakwah.
Sementara itu, Ketua Umum FORMIGG Mimika, Drs. H. Muh. Darwis, M.Ikom mengingatkan para da’i agar menghentikan pembahasan terkait Pilkada dalam ceramah Ramadan. Hal itu juga telah disampaikannya kepada Bupati Mimika, Johannes Rettob, dalam pertemuan internal.
Ia mengkhawatirkan pembahasan politik praktis dapat memicu polarisasi yang berpotensi mengancam persatuan umat Islam.
“Saat ini semua tokoh agama sedang berusaha membangun silaturahmi,” ujarnya.
Mantan anggota DPRD Mimika itu berharap momentum refreshing ini menjadi sarana penyucian hati, pikiran dan jiwa dalam menyambut Ramadan yang penuh berkah.
Darwis juga menjelaskan pembentukan FORMIGG pada 2024 lalu bertepatan dengan suasana politik Pilkada, namun pendiriannya dijamin undang-undang sebagai hak berserikat dan berkumpul. Ia menegaskan, tujuan FORMIGG adalah memperjuangkan kepentingan guru ngaji dan mubalig, termasuk insentif serta kesempatan umrah bagi mereka.
Ia mencontohkan sejarah perjuangan kemerdekaan di Jakarta yang melahirkan berbagai organisasi kepemudaan seperti Jong Java, Jong Makassar, Jong Batak dan Jong Ambon sebagai bentuk persatuan.
“Melalui momen ini, mari kita sambut Ramadan dengan saling bersilaturahmi, saling memaafkan dan menghadirkan suasana hati yang bersih, sejuk dan damai,” tutupnya. **














