Untuk mengatasi dampak ini, Vinsen menganjurkan diperlukan solusi strategis yang komprehensif.

Pertama, Wali Kota Rollo harus segera melakukan klarifikasi publik yang transparan, seperti yang telah dilakukannya dengan menyatakan dirinya tidak mempunyai niat atau bermaksud mengusir orang gunung dari Kota Jayapura.

Menurut Vinsen, langkah Ini perlu diikuti dengan langkah konkret, seperti mengadakan dialog inklusif dengan semua kelompok masyarakat, termasuk penduduk asli dan migran untuk membangun kesepahaman.

Kedua, pemerintah daerah dapat menerapkan pelatihan komunikasi publik bagi para pemimpin, agar mereka belajar menggunakan bahasa yang membangun dan menghindari polarisasi. Misalnya, fokus pada isu bersama seperti pembangunan kota daripada menyoroti perbedaan.

Ketiga, secara struktural, pemerintah pusat atau provinsi bisa memfasilitasi rekonsiliasi melalui surat perjanjian atau forum adat, seperti yang disarankan Rollo, untuk memastikan semua pihak berkomitmen pada perdamaian.

Dengan demikian, snowball effect negatif dapat diubah menjadi peluang untuk memperkuat kerukunan sosial di Jayapura dan tanah Papua.

Sementara kepada Dewan Adat Suku seperti Lemasa dan Lemasko untuk selalu memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada elemen-elemen masyarakat adat suku AK dan juga Suku Sempan dan Papua lain dalam rangka membangun kesadaran kolektif nasionalis sebagai bangsa yang besar di Indonesia.

“Perlu kesadaran kolektif antar sesama manusia Papua dari 7 wilayah adat yang berada di Kabupaten Mimika Tanah Amungsa Bumi Kamoro,” sarannya.

Sebagai putra Amungme mengajak seluruh masyarakat Mimika untuk tetap jaga tanah Amungsa Bumi Kamoro sebagai rumah bersama penuh damai, toleransi dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. **