Uskup Bernardus Soroti Kasus Pembunuhan di Dogiyai, Singgung Sikap Umat Katolik dan Hierarki Menjadi Yudas Iskariot
Ia menegaskan Paskah adalah perayaan persatuan yang menghancurkan sekat-sekat kepentingan kekuasaan, ideologi, maupun perbedaan etnis. Semua umat dipanggil untuk bersatu dalam Kristus dan diutus menuju sukacita abadi.
Selain itu, umat diajak untuk saling melayani dengan tulus, sebagaimana dicontohkan Yesus kepada para murid-Nya. Ia mengutip dialog Yesus dengan Petrus yang menegaskan bahwa tidak semua orang yang tampak bersih sungguh-sungguh bersih, karena hati tetap membutuhkan pemurnian melalui pertobatan.
“Dengan hati yang tulus, jujur dan murni, pelayanan kepada sesama juga akan dilakukan dengan ketulusan,” ujarnya.
Uskup Bernardus menyoroti fenomena pelayanan masa kini yang kerap dilandasi kepentingan pribadi.
Ia membandingkannya dengan semangat para misionaris dan guru di masa lalu yang rela meninggalkan kampung halaman, hidup sederhana bersama masyarakat Papua, dan melayani tanpa pamrih.
Namun, menurutnya, kondisi saat ini banyak dipengaruhi pola hidup instan yang mendorong manusia mengejar kesenangan diri.
“Jiwa menjadi kerdil, pikiran menjadi sempit, dan hati menjadi buta dalam melihat kebutuhan sesama,” ungkapnya.
Ia pun mengajak seluruh umat untuk kembali belajar dari Yesus sebagai Guru, yang memberikan diri secara total dalam pelayanan yang tulus, serta membangun semangat saling melayani demi kebaikan bersama. **
Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA membawakan homili pada perayaan malam Kamis Putih di Gereka Katedral Tiga Raja, Kamis 2 April 2026. (Foto – Scrinshot live streaming Multimedia Tiga Raja/papuaglobalnews.com).

























