Uskup Bernardus Soroti Kasus Pembunuhan di Dogiyai, Singgung Sikap Umat Katolik dan Hierarki Menjadi Yudas Iskariot
Timika,papuaglobalnews.com – Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, menyoroti kasus pembunuhan yang terjadi di Dogiyai sejak 31 Maret hingga 2 April 2026 dalam homilinya pada perayaan Kamis Putih di Gereja Katedral Tiga Raja, Kamis 2 Maret 2026.
Perayaan Kamis Putih yang mengenang perjamuan terakhir serta pembasuhan kaki oleh Yesus Kristus kepada ke-12 murid-Nya menjadi momentum bagi Uskup Bernardus untuk menyampaikan seruan kenabian terkait situasi kemanusiaan di Papua.
Dalam refleksinya, Uskup Bernardus menilai peristiwa yang menimpa anggota kepolisian dan masyarakat sipil di Dogiyai diduga bukan semata peristiwa biasa, melainkan sarat kepentingan kekuasaan dan jauh dari nilai kebenaran serta pelayanan kepada masyarakat.
Ia juga mengkritik aparat keamanan yang seharusnya hadir memberikan rasa aman, namun dalam kenyataannya justru menciptakan ketakutan di tengah masyarakat.
“Polisi menggunakan senjata untuk menembak masyarakat, padahal seharusnya melindungi rakyat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Uskup Bernardus mengajak umat merenungkan makna kematian Yesus Kristus di kayu salib.
Ia menegaskan pengorbanan Kristus adalah untuk membebaskan manusia dari kejahatan, termasuk praktik-praktik rekayasa dan pengkhianatan seperti yang dilakukan Yudas Iskariot.
Dalam kritiknya, ia secara tegas menyinggung bahwa di lingkungan Gereja Katolik, baik awam maupun hierarki, masih ada yang bertindak seperti Yudas Iskariot menjual nilai kebenaran demi kepentingan duniawi, ideologi kekuasaan dan jabatan.
Menurutnya, makna Paskah yang berakar dari tradisi Yahudi merupakan ajakan radikal bagi umat untuk berani mengubah sistem penindasan, kekerasan, dan praktik yang mengorbankan nyawa manusia.
Ia menegaskan perubahan harus ditempuh melalui jalan dialog, perdamaian dan kemanusiaan.
Uskup Bernardus juga mengingatkan pesan Paus Leo IV dalam berbagai kunjungan Gereja, bahwa martabat manusia harus ditempatkan di atas segala kepentingan ideologi.
Ia menegaskan Paskah adalah perayaan persatuan yang menghancurkan sekat-sekat kepentingan kekuasaan, ideologi, maupun perbedaan etnis. Semua umat dipanggil untuk bersatu dalam Kristus dan diutus menuju sukacita abadi.
Selain itu, umat diajak untuk saling melayani dengan tulus, sebagaimana dicontohkan Yesus kepada para murid-Nya. Ia mengutip dialog Yesus dengan Petrus yang menegaskan bahwa tidak semua orang yang tampak bersih sungguh-sungguh bersih, karena hati tetap membutuhkan pemurnian melalui pertobatan.
“Dengan hati yang tulus, jujur dan murni, pelayanan kepada sesama juga akan dilakukan dengan ketulusan,” ujarnya.
Uskup Bernardus menyoroti fenomena pelayanan masa kini yang kerap dilandasi kepentingan pribadi.
Ia membandingkannya dengan semangat para misionaris dan guru di masa lalu yang rela meninggalkan kampung halaman, hidup sederhana bersama masyarakat Papua, dan melayani tanpa pamrih.
Namun, menurutnya, kondisi saat ini banyak dipengaruhi pola hidup instan yang mendorong manusia mengejar kesenangan diri.
“Jiwa menjadi kerdil, pikiran menjadi sempit, dan hati menjadi buta dalam melihat kebutuhan sesama,” ungkapnya.
Ia pun mengajak seluruh umat untuk kembali belajar dari Yesus sebagai Guru, yang memberikan diri secara total dalam pelayanan yang tulus, serta membangun semangat saling melayani demi kebaikan bersama. **
Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA membawakan homili pada perayaan malam Kamis Putih di Gereka Katedral Tiga Raja, Kamis 2 April 2026. (Foto – Scrinshot live streaming Multimedia Tiga Raja/papuaglobalnews.com).

























