7). Maikel Waine (14 tahun, terluka parah)
Adalah seorang anak di bawah umur, yang terkena luka tembak di dada bagian kiri hingga menembus bahu kiri. Kondisi terakhir anak ini belum diketahui, apakah sudah tertolong atau tidak.

8). Angkian Edowai ( 19 tahun, tewas)
Adalah seorang warga sipil dari Kampung Denemani, Distrik Dogiyai, Kabupaten Dogiyai yang dinyatakan tewas di tempat dalam insiden lanjutan di malam hari, tepat sekitar jam 01: 00 WP. Ia terbaring tanpa nyawa di jalan aspal.

9) Kikibi Pigai (terluka parah di bagian paha)
Adalah seorang warga sipil yang terkena tembakan yang menembus paha, hingga menyebabkan luka serius dalam bentuk lubang menganga.

10) Selain korban jiwa, tentu ada pun korban material, misalnya dua mobil truk yang dibakar di sekitar Kantor DPR Dogiyai, beberapa motor yang dibakar, dan persis tadi malam ada sebuah bangunan yang dibakar tepat di samping Markas Kapolres Dogiyai.

9 Korban dan Semua OAP

Yang menarik untuk ditelisik lebih jauh adalah terkait dengan identitas dari para korban yang ada, yaitu semuanya adalah Orang Asli Papua (OAP), baik di kalangan aparat kepolisian (Bripda JE dan Bripda AK), tapi juga korban di kalangan masyarakat sipil (ST, EP, MY, YY, MW, AE, KP). Apakah ini sebuah kebetulan ataukah ada desain pihalk ketiga (invisiable hand) di baliknya?

Soalnya, pasca kejadian ini, ada polemik serius antara OAP versus OAP. Sekurang-kurangnya berdasarkan pemantauan yang kami lakukan ada dua gab atau disparitas yang nampak berpolemik ke permukaan, yakni keluarga JE di Utuma-Deiyai dengan masyarakat Dogiyai; dan disparitas antara masyarakat sipil dan pemerintah daerah.

Disparitas dan Vikrasi Sosial: Keluarga Bripda JE vs Masyarakat Dogiyai

Pertama, keluarga Bripda JE vs masyarakat Dogiyai. Keluarga Bripda JE sangat mengutuk keras tindakan pelaku yang melakukan pembuhuan kepada anak mereka. Mereka menuntut agar pelaku segera ditemukan, beberapa keluarganya pun menuntut agar pelaku segera mengembalikan lima jari Bripda JE yang sebelumnya sudah dimutilasi dan dihilangkan itu.

Menanggapi pernyataan keluarga Bripda JE tersebut, masyarakat Dogiyai menegaskan bahwa identitas pelaku pembunuhan Bripda JE masih misterius alias Orang Tidak Dikebal (OTK). Bagi mereka, Brida JE dibunuh oleh pelaku yang belum jelas dan pasti motif dan identitas, lagipula Bripda JE dikenal sebagai sosok yang dekat dengan warga setempat, terutama para pemuda, sehingga tidak mungkin para pemuda yang melakukan tindakan keji ini. Untuk itu kesimpulan mereka, pelaku pembunuhannya adalah pihak yang terlatih dan profesional.

Di sisi lain polisi belum melakukan olah TKP yang resmi, intens sesuai kaidah-kaidah penyelidikan yang ada. Mereka langsung menghamburkan peluru. Jadi, ada ketegangan antara keluarga Bripda JE vs masyarakat Dogiyai.

Dipasritas dan Vikrasi Sosial: Masyarakat Ekemanida vs Forkopimda Dogiyai

Kedua, ketengan berikut adalah ketengangan antara masyarakat Kampung Ekemanida (Idakotu) vs Pemerintah Daerah. Mengapa demikian? Sebab, mobil polisi yang melepaskan tembakan hingga menewaskan anak Martinus Yobee persis adalah mobil pihak keamanan yang mengawal rombongan pemerintah.

Mengetahui persoalan ini, maka masyarakat Kampung Ekemanida bersepakat untuk memberi peneringatan keras kepada semua stakeholders pemerintah daerah di Kabupaten Dogiyai dari Bupati sampai Kepala Kampung. Dari sini, kami berani menyimpulkan bahwa menurut keyakinan kami, aktor utama disparitas dan tragedi berdarah di Dogiyai ini adalah aparat keamanan sendiri yang berusaha memecah bela relasi harmoni antara masyarakat OAP degan masyarakat OAP (keluarga Bripda JE vs Masyatakat Dogiyai), kemudian masyarakat OAP dengan pemerintah (masyarakat Ekemanida vs Forkopimda Dogiyai).

Sedikit Analisa Sementara

Pasca tragedi Dogiyai berdarah 31 Maret 2026 ini, muncul beberapa analisa dan spekulasi. Menurut sebagain besar masyarakat Dogiyai yang senantiasa mengalami dan menghadapi situasi dan kondisi berdarah, ini murni desain aparat keamanan. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa aparat keamanan selalu menciptakan situasi dan kondisi konflik di Dogiyai menjelang triwulan agar dana keamanan bertambah. Mereka mengelola, membiarkan, memelihara, dan memproduksi konflik sebagai “komoditas” yang mendatangkan trofit, pangkat, modal, dan cuan.

Kedua, konflik yang kemarin tercipta adalah upaya pihak ketiga mengacaukan kegiatan Musremban Otsus yang berlangsung dua hari, dari Senin 30 Maret 2026 sampai Selasa 31 Maret 2026 di Aula Kotrka Moge, Moanemani Dogiyai.

Selain itu, situasi dan kondisi tragedi berdarah 31 Maret 2026 pun merupakan alat pengacau sekaligus pemecah bela kesatuan dan persatuan masyarakat Dogiyai yang baru saja melaksanakan Musyawara Besar Rakyat Dogiyai bersama Forkopimda Kabupaten Dogiyai guna memberantas segala macam penyakit sosial, seperti Miras, Pencurian, Pembegalan, Pemalakan, dan sebagainya di Kabupaten Dogiyai. Di dalam musyawara ini citra dan marwah aparat keamanan dan pertahanan negara (POLRI-TNI) di Dogiyai benar-benar ditelanjangi dan dipermalukan.

Ketiga, tepat hari ini, Rabu 01 April 2026, berdasarkan suarat edaran yang dibagikan sejak beberapa hari lalu, Solidaritas Rakyat Dogiyai (SRD) mengundang seluruh komponen Bangsa Papua di wilayah Dogiyai, baik kelompok-kelompok perjuangan pembebasan nasional Papua Barat, Tokoh Gereja, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan, dan Tokoh masyarakat, serta seluruh rakyat Dogiyai untuk hadir dalam diskusi bersama tentang “Mencari Solusi Pembebasan Nasional Papua Barat Selama 64 Tahun” karena perjuangan bangsa Papua adalah perjuangan bersama.

Namun, agenda baik ini harus ditunda karena situasi dan kondisi Dogiyai yang sedang kacau, tegang, dan mencekam sejak kemarin pagi. Sangat disinyalir kuat bahwa tragedi Dogiyai berdarah 31 Maret 2026 adalah sebuah upaya aparat keamanan pertahanan negara untuk menggagalkan kegiatan diskusi dari Solidaritas Rakyat Dogiyai.

Serba-Serbi

Pasca kejadian kemarin, sejak siang hingga sore dan malam terjadi gelombang pengungsian internal dalam jumlah yang cukup masif. Ada banyak keluarga di kalangan masyarakat sipil yang tinggal di zona perang sekitaran Kota Moanemani harus mengungsi untuk beberapa hari ke keluarga dan kerabat mereka yang tinggal di luar Kota Moanemani, bahkan ada beberapa keluarga terpaksa harus mengungsi ke gunung guna mengamankan diri.

Sekarang ini juga, sedang terjadi konflik antara para pemuda dan aparat gabungan (bala bantuan dari Deiyai-Paniai) di wilayah Kamuu Timur, Kampung Ugapuga, tepatnya di sepanjang lereng Gunung Iyaidimi (Perbatasan Kabupaten Dogiyai dan Deiyai) di bawah guyuran hujan, selimut embun, dan tusukan hawa dingin.

Marilah kita berdoa dan berjuang dengan cara dan gaya kita masing-masing agar perang ini cepat usai dan solusi perdamaian segera tercipta di Negeri Lembah Hijau Kamuu. Amin.

Catatan: Narasi kronologis ini ditulis berdasarkan pemantauan dan pelacakan penulis secara terbatas, karena akses kami benar-benar terbatas. Untuk itu mohon pantauan, investigasi, advokasi, dan mitigasi dari semua pemangku kepetingan dalam isu-isu hukum, HAM, dan kemanusiaan di mana saja.
Mauwa, 01 April 2026. @sorotan. **