Ia menambahkan, melalui pementasan ini, umat diharapkan memiliki keberanian menghadapi tantangan hidup serta rela berkorban demi tujuan yang baik. Dalam konteks kehidupan di Papua, umat juga diajak menjadi pembawa damai serta terang di tengah konflik.

Selain itu, RP. Gabriel juga menyinggung pentingnya kesadaran menjaga lingkungan, khususnya dalam hal pengelolaan sampah. Ia mengingatkan bahwa perilaku membuang sampah sembarangan dapat merusak lingkungan dan kesehatan.

Hal tersebut, lanjutnya, sejalan dengan pesan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ tentang pentingnya merawat bumi sebagai rumah bersama.

“Jika setelah pementasan ini masih terjadi konflik dan kebiasaan membuang sampah sembarangan, maka pengalaman Golgota yang diperankan kembali tidak memiliki makna,” tegasnya.

Gabriel juga menjelaskan makna salib yang dipikul Yesus. Kayu salib vertikal melambangkan relasi manusia dengan Allah, sedangkan horizontal melambangkan relasi antar sesama manusia.

Pada perayaan Jumat Agung, warna liturgi merah melambangkan keberanian untuk berbuat baik serta menjadi saksi kebenaran yang dilandasi cinta kasih.

Ia berharap, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi generasi muda Katolik untuk membangun kebersamaan, mempererat komunikasi, serta menumbuhkan semangat pelayanan.

“Intinya, mereka dapat semakin meresapi semangat pelayanan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. **