Timika,papuaglobalnews.com – Mengenang peristiwa Golgota, kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus sekitar 2.000 tahun lalu, umat Katolik Paroki Santo Stefanus Sempan, Keuskupan Timika memperingati Jalan Salib Hidup pada Jumat, 3 April 2026.

Tablo yang diperagakan oleh Orang Muda Katolik (OMK) ini mengambil titik start di halaman Gedung Tongkonan dan diikuti ribuan umat, dimulai pukul 09.00 WIT. Prosesi dimulai dari peristiwa di Taman Getsemani, kemudian Yesus yang memikul salib dengan mahkota duri berjalan menyusuri Jalan Sam Ratulangi menuju Jalan Yos Sudarso, masuk ke Jalan Busiri hingga berakhir di halaman Gereja Paroki Santo Stefanus Sempan Timika.

Sepanjang perjalanan, prosesi melewati 14 perhentian Jalan Salib. Dalam jalan salib ini tokoh Yesus diperankan oleh Ignasius Aleng (Aril), didampingi dua penjahat, Dismas dan Kosmas, yang masing-masing diperankan oleh Arens Yanyaan dan Peter Tenggama, dengan kedua kaki masing-masing diborgol sambil memikul salib.

Umat yang mengikuti prosesi tampak larut dalam suasana haru dan duka, sembari mendaraskan doa rosario sepanjang perjalanan.

Dalam pementasan tersebut, sejumlah tokoh turut diperankan, di antaranya Maria oleh Iren Tawurubun, Pilatus oleh Ari Ngutra, Yudas oleh Jovan Wananubun, Veronika oleh Sela Rumsory, Herodes oleh Yohanes L. Rumangun, Kayafas oleh Kendek, serta Simon dari Kirene oleh Ifan Salomo Fatubun. Sementara itu, kepala prajurit diperankan George Valentino, serdadu oleh Plasidus Akimuri dan Stefie Toatubun, serta istri Pilatus oleh Anjela Renyaan.

Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan Timika, RP. Gabriel Ngga, OFM, menjelaskan bahwa Jalan Salib Hidup yang diperagakan OMK bukan sekadar drama untuk mengenang peristiwa masa lalu, melainkan sarana untuk memperdalam iman.

“Melalui peristiwa ini kita diingatkan bahwa Yesus rela menyerahkan diri-Nya demi keselamatan manusia. Ia menghadapi penderitaan dan ketakutan, tetapi tetap taat pada kehendak Bapa,” ujarnya.

Menurutnya, penyaliban Yesus mengandung makna pembebasan manusia dari dosa dan kejahatan, sekaligus menjadi teladan keberanian, cinta, dan pengampunan.

Ia menambahkan, melalui pementasan ini, umat diharapkan memiliki keberanian menghadapi tantangan hidup serta rela berkorban demi tujuan yang baik. Dalam konteks kehidupan di Papua, umat juga diajak menjadi pembawa damai serta terang di tengah konflik.

Selain itu, RP. Gabriel juga menyinggung pentingnya kesadaran menjaga lingkungan, khususnya dalam hal pengelolaan sampah. Ia mengingatkan bahwa perilaku membuang sampah sembarangan dapat merusak lingkungan dan kesehatan.

Hal tersebut, lanjutnya, sejalan dengan pesan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ tentang pentingnya merawat bumi sebagai rumah bersama.

“Jika setelah pementasan ini masih terjadi konflik dan kebiasaan membuang sampah sembarangan, maka pengalaman Golgota yang diperankan kembali tidak memiliki makna,” tegasnya.

Gabriel juga menjelaskan makna salib yang dipikul Yesus. Kayu salib vertikal melambangkan relasi manusia dengan Allah, sedangkan horizontal melambangkan relasi antar sesama manusia.

Pada perayaan Jumat Agung, warna liturgi merah melambangkan keberanian untuk berbuat baik serta menjadi saksi kebenaran yang dilandasi cinta kasih.

Ia berharap, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi generasi muda Katolik untuk membangun kebersamaan, mempererat komunikasi, serta menumbuhkan semangat pelayanan.

“Intinya, mereka dapat semakin meresapi semangat pelayanan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. **