TPNPB Tuding Militer Indonesia Pasang Ranjau Bom di Gereja Sion Jaindapa
Intan Jaya,papuaglobalnews.com – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) menuding militer Indonesia memasang ranjau bom di kolong dekat pintu masuk Gereja Sion Jaindapa yang merupakan bangunan konstruksi kayu untuk mencelakakan dan mematikan jemaat di Kabupaten Intan Jaya.
Tudingan tersebut disampaikan Juru Bicara Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB, Sebby Sambom, dalam siaran persnya, Selasa 2 Juni 2026.
Dalam siaran pers tersebut, Sebby menjelaskan bahwa Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB telah menerima laporan dari PIS TPNPB di pusat Kota Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, yang menyebut aparat militer Indonesia melakukan operasi militer lanjutan terhadap gereja-gereja, rumah-rumah, dan permukiman warga sipil sejak Januari hingga Juni 2026.
Menurut laporan tersebut, aparat militer Indonesia melakukan serangan bom menggunakan pesawat nirawak pada 17 Mei 2026 yang bertepatan dengan hari Minggu. Serangan itu disebut mengakibatkan empat warga sipil menjadi korban. Sementara itu, aparat Kampung Donggoa, Luter Nabelau, dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis di RSUD Mimika.
Korban disebut mengalami luka berat pada bagian alat vital akibat ledakan bom yang terjadi di halaman Gereja Katolik Santo Paulus Nabuni, Kampung Mbamogo.
Selain operasi udara menggunakan pesawat nirawak, Sebby juga menuding aparat militer Indonesia melakukan operasi darat dari kampung ke kampung sambil memasang ranjau bom di sebuah bangunan Gereja Sion di Kampung Jaindapa, Distrik Hitadipa, yang berbatasan dengan Distrik Sugapa.
Menurutnya, ranjau bom tersebut ditemukan pada 2 Juni 2026 dalam kondisi aktif. Bom itu disebut dipasang di bawah kolong dekat pintu masuk dan keluar gereja. Pin pengaman bom, kata Sebby, telah diikat dengan tali sehingga apabila seorang pendeta, gembala, atau warga jemaat menyentuh tali tersebut, bom dapat meledak dan menimbulkan korban jiwa.
Sebby juga menegaskan berdasarkan laporan PIS TPNPB, pengerahan aparat militer Indonesia sejak Januari hingga Juni 2026 dilakukan dalam skala besar di Intan Jaya. Selain itu, operasi udara menggunakan helikopter militer disebut terus ditingkatkan dari kampung ke kampung.
















