“Setelah tiga hari dipanen, jika tidak dikeringkan, akan timbul jamur. Karena itu, kita terus memberikan perhatian kepada petani binaan,” katanya.

Program pencetakan 1.000 hektar sawah akan difokuskan di wilayah SP7, SP13, Muare dan SP5. Di wilayah tersebut, saluran irigasi telah tersedia dengan baik sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

“Masyarakat menyambut baik program ini. Dalam setahun bisa dua kali panen jika lahan digarap maksimal,” ujarnya.

Ia menegaskan bantuan pemerintah diberikan dalam bentuk barang berupa sarana produksi, bukan uang tunai, agar tepat sasaran.

Selain pengembangan padi dan jagung, sektor hortikultura juga tetap menjadi perhatian, seperti pengembangan sayur-sayuran serta buah-buahan jangka pendek seperti semangka, melon dan anggur yang telah dikembangkan oleh petani di wilayah SP7 dan SP6.

Di sisi lain, pengembangan pangan lokal seperti keladi, petatas dan ubi kayu juga terus didorong. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada beras, tetapi memiliki alternatif sumber pangan lain yang juga bergizi.

Pengembangan pangan lokal tersebut dinilai penting karena selain dapat dikonsumsi sebagai pengganti nasi, juga dapat diolah menjadi produk olahan seperti kerupuk dari ubi, keladi dan petatas yang berpotensi meningkatkan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). **