Stop the Slop: Membaca Mimika Lewat Foucault, Harvey dan Fanon
Kolonialitas dan Pencarian Diri di Kota Tambang
Frantz Fanon memberikan perspektif paling dalam: kritik terhadap kolonialitas, yakni cara kolonialisme terus hidup dalam mentalitas, mimpi, dan kebutuhan masyarakat.
Di Mimika, kolonialitas tidak hanya berupa ketimpangan rasial atau ekonomi (mayoritas vs minoritas, atau kaya vs miskin). Ia hidup dalam bentuk: standar hidup modern yang disalin dari pusat-pusat kota besar, keinginan untuk “terlihat maju” melalui konsumsi, hilangnya ruang budaya asali Amungme dan Kamoro di tengah arus migrasi; rasa terasing di tanah sendiri.
Bagi Fanon, budaya konsumsi dangkal (slop) tumbuh ketika martabat kolektif tidak mendapat ruang. Ketika maasyarakat kehilangan kendali atas tanah, sejarah, dan narasinya sendiri, konsumsi menjadi kompensasi psikologis. “Slop” adalah luka kolonial yang belum sembuh.
Dalam kerangka ini, “Stop the Slop” hanya masuk akal jika disertai gerakan dekolonisasi budaya: mengembalikan bahasa (slogan, semisal “Mimika Rumah Kita” ke semboyan asali), ritual, pengetahuan lokal, dan ruang komunal sebagai sumber martabat dan orientasi kehidupan.
Mimika di Persimpangan
Jika kita memakai tiga teori ini secara bersamaan, satu kesimpulan muncul: “Slop bukan penyakit moral; ia adalah gejala struktural. Foucault membaca bagaimana wacana membentuk perilaku. Harvey membaca bagaimana ekonomi ekstraktif menciptakan ruang yang mendorong slop. Fanon membaca bagaimana kolonialitas meretakkan subjektivitas dan identitas.
Karena itu, “Stop the Slop” harus diletakkan dalam konteks lebih luas, yaitu:
- Stop tata kelola yang hanya mengatur perilaku warga tetapi tidak memperbaiki struktur.
- Stop produksi ruang yang hanya menguntungkan segelintir aktor besar (biasanya kapitalis, dan mayoritas berbasis suku dan agama).
- Stop kolonialitas yang membuat generasi muda Mimika mengukur nilai hidup dari konsumsi cepat.
- Stop politik yang memutus warga dari tanah (konflik agrarian: pencaplokan tanah dan ruang hidup berbasis premanisme), bahasa (pengabaian bahasa dan kearifan lokal), dan komunitasnya (arogansi mayoritas suku, agama dan kapital).
Dengan kata lain, Stop the Slop berarti Stop the System that Creates the Slop.
Menuju Mimika yang Bermartabat
Slop hanya bisa dihentikan jika Mimika kembali menata tiga hal: ruang hidup yang adil, kebijakan yang berpihak pada manusia (basisnya pada Amungme dan Kamoro), dan subjektivitas yang merdeka dari kolonialitas.
Ini bukan tugas seorang individu, tetapi tugas kolektif. Dan tugas itu harus dimulai sekarang. **



































