Stop the Slop: Membaca Mimika Lewat Foucault, Harvey dan Fanon
Oleh: Laurens Minipko
FENOMENA “Stop the Slop” sedang ramai di media sosial dunia. Di banyak kota,sSlogan ini muncul sebagai kritik budaya terhadap gaya hidup instan, konten dangkal, dan kebiasaan konsumsi tak berkesudahan. Namun di Mimika, kota pertambangan yang sejak awal dibangun oleh kapital besar, “slop” bukan sekadar gaya hidup. Ia adalah cermin dari struktur sosial, ekonomi, dan politik yang rapuh. Ia adalah gejala dari cara ruang diciptakan, cara kuasa bekerja, dan cara masyarakat dipaksa mendefinisikan nilai hidup.
Untuk memahami hal ini, saya meminjam tiga lensa teori besar: Michel Foucault, David Harvey, dan Frans Fanon. Ketiganya memberi kita petunjuk bahwa “slop” bukan sekadar soal moralitas individu. Ia adalah produk dari relasi kuasa, mekanisme akumulasi kapital, dan warisan kolonial yang hingga kini membentuk kehidupan sehari-hari orang Mimika.
Slop Sebagai Produk Kuasa dan Diskursus
Foucault mengajarkan bahwa kuasa bekerja bukan hanya lewat pasukan atau hukum, tetapi lewat diskursus: cara kita berbicara, menilai, dan mendefinisikan sesuatu.
Dalam kerangka ini, “slop” adalah kategori yang diciptakan oleh masyarakat modern untuk menertibkan perilaku: siapa yang dianggap rajin, siapa yang dianggap malas; siapa yang berdisiplin, siapa yang boros, siapa yang “baik”, siapa yang benar, siapa yang salah, siapa yang “slop”.
Di Mimika, masalahnya lebih rumit. Banyak perilaku yang hari ini dilabeli “slop” sebenarnya berakar pada struktur kota tambang yang sejak awal dibangun untuk mobilitas cepat, konsumsi cepat, transportasi cepat, keuntungan cepat. Program-program pendidikan, kesehatan, bahkan pelatihan kerja sering hanya menata perilaku warga, bukan memperbaikai akar masalah: ketimpangan, migrasi besar-besar yang berujung pada dominasi mayoritas dalam tatatan sosial, dan kebijakan ruang yang tak berpihak pada warga lokal.
Dengan membaca ini lewat Foucault, kita tahu bahwa “Stop the Slop” tak cukup jadi ajakan disiplin pribadi. Ia harus dibaca sebagai kritik atas cara kuasa mengatur kehidupan orang Mimika, seringkali tanpa memberi mereka alat untuk keluar dari lingkungan problem yang sama.
Slop Muncul dari Kota yang Diproduksi oleh Kapital Ekstraktif
David Harvey memberi kita penjelasan yang lebih struktural: budaya slop tumbuh di kota-kota yang ruangnya diproduksi oleh logika kapitalisme ekstraktif. Mimika merupakan contoh ekstrem.
Arus uang besar masuk lewat indsutri tambang, tetapi hanya sedikit yang berubah menjadi infrastruktur publik yang memperkuat kapasitas warga lokal. Yang tumbuh justru: ruang konsumsi cepat, pusat hiburan instan, ekonomi informal yang rapuh, ketergantungan pada upah tinggi namun tanpa masa depan jelas.
Harvey menyebut kondisi ini accumulation by dispossession (akumulasi lewat perampasan ruang hidup). Ketika ruang publik dan ruang budaya menyempit, yang tersisa hanyalah ruang-ruang konsumsi. Dalam kondisi seperti ini, “slop” bukan kelalaian moral; ia adalah konsekuensi logis dari cara kota dibangun dan siapa yang memegang “kendali atas”. Di sini, otoritas politik praktis pragmatis memainkan peran sangat dominan.
Kolonialitas dan Pencarian Diri di Kota Tambang
Frantz Fanon memberikan perspektif paling dalam: kritik terhadap kolonialitas, yakni cara kolonialisme terus hidup dalam mentalitas, mimpi, dan kebutuhan masyarakat.
Di Mimika, kolonialitas tidak hanya berupa ketimpangan rasial atau ekonomi (mayoritas vs minoritas, atau kaya vs miskin). Ia hidup dalam bentuk: standar hidup modern yang disalin dari pusat-pusat kota besar, keinginan untuk “terlihat maju” melalui konsumsi, hilangnya ruang budaya asali Amungme dan Kamoro di tengah arus migrasi; rasa terasing di tanah sendiri.
Bagi Fanon, budaya konsumsi dangkal (slop) tumbuh ketika martabat kolektif tidak mendapat ruang. Ketika maasyarakat kehilangan kendali atas tanah, sejarah, dan narasinya sendiri, konsumsi menjadi kompensasi psikologis. “Slop” adalah luka kolonial yang belum sembuh.
Dalam kerangka ini, “Stop the Slop” hanya masuk akal jika disertai gerakan dekolonisasi budaya: mengembalikan bahasa (slogan, semisal “Mimika Rumah Kita” ke semboyan asali), ritual, pengetahuan lokal, dan ruang komunal sebagai sumber martabat dan orientasi kehidupan.
Mimika di Persimpangan
Jika kita memakai tiga teori ini secara bersamaan, satu kesimpulan muncul: “Slop bukan penyakit moral; ia adalah gejala struktural. Foucault membaca bagaimana wacana membentuk perilaku. Harvey membaca bagaimana ekonomi ekstraktif menciptakan ruang yang mendorong slop. Fanon membaca bagaimana kolonialitas meretakkan subjektivitas dan identitas.
Karena itu, “Stop the Slop” harus diletakkan dalam konteks lebih luas, yaitu:
- Stop tata kelola yang hanya mengatur perilaku warga tetapi tidak memperbaiki struktur.
- Stop produksi ruang yang hanya menguntungkan segelintir aktor besar (biasanya kapitalis, dan mayoritas berbasis suku dan agama).
- Stop kolonialitas yang membuat generasi muda Mimika mengukur nilai hidup dari konsumsi cepat.
- Stop politik yang memutus warga dari tanah (konflik agrarian: pencaplokan tanah dan ruang hidup berbasis premanisme), bahasa (pengabaian bahasa dan kearifan lokal), dan komunitasnya (arogansi mayoritas suku, agama dan kapital).
Dengan kata lain, Stop the Slop berarti Stop the System that Creates the Slop.
Menuju Mimika yang Bermartabat
Slop hanya bisa dihentikan jika Mimika kembali menata tiga hal: ruang hidup yang adil, kebijakan yang berpihak pada manusia (basisnya pada Amungme dan Kamoro), dan subjektivitas yang merdeka dari kolonialitas.
Ini bukan tugas seorang individu, tetapi tugas kolektif. Dan tugas itu harus dimulai sekarang. **



































