Oleh: Laurens Minipko (Pengamat Sosial Mimika)

 

AKSI penyampaian aspirasi yang dilakukan Forum Peduli ASN Amungme dan Kamoro di halaman Kantor Bupati di Kabupaten Mimika pada pertengahan Maret 2026 tidak hanya dapat dibaca sebagai peristiwa birokrasi atau protes administratif terhadap kebijakan rolling jabatan pemerintah daerah. Di balik peristiwa tersebut terdapat dimensi sosial dan moral yang lebih dalam, yaitu solidaritas.

Para aparatur sipil negara yang tergabung dalam forum tersebut menyuarakan aspirasi terkait pelantikan pejabat yang dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan semangat afirmasi bagi Orang Asli Papua sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Otonomi Khusus Papua. Namun di balik tuntutan administratif itu terdapat satu nilai yang jarang disorot dalam diskursus publik: kesediaan untuk berdiri bersama demi kepentingan kolektif atau solidaritas.

Solidaritas seperti ini tidak lahir begitu saja. Ia hampir selalu mengandung risiko, keberanian, dan pengorbanan.

Solidaritas sebagai Nilai Universal

Dalam banyak tradisi sosial dan filsafat politik, solidaritas dipahami sebagai kemampuan manusia untuk merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaan bersama.

Sosiolog klasik Émile Durkheim menjelaskan bahwa solidaritas adalah perekat kehidupan sosial. Tanpa solidaritas, masyarakat akan terpecah menjadi individu-individu yang hidup hanya untuk kepentingannya sendiri.

Dalam konteks Mimika, solidaritas yang muncul dalam aksi ASN Amungme dan Kamoro menunjukkan bahwa persoalan yang mereka hadapi tidak dipahami sebagai masalah individu semata. Ia dipandang sebagai persoalan bersama yang menyangkut martabat dan masa depan masyarakat asli Papua dalam birokrasi daerah.

Ketika seseorang memutuskan berdiri bersama dalam sebuah aksi kolektif, ia sebenarnya sedang mengambil risiko pribadi baik secara karier, posisi sosial, maupun hubungan dengan kekuasaan. Karena itu solidaritas selalu mengandung unsur pengorbanan pribadi demi kepentingan bersama.

Solidaritas dalam Tradisi Injil

Nilai solidaritas juga memiliki akar yang kuat dalam tradisi iman Kristiani. Dalam ajaran  Yesus, solidaritas bukan sekadar kasihan, sayang, simpati, tetapi panggilan untuk berpihak kepada sesama yang mengalami ketidakadilan.

Dalam Injil Matius 25:40, Yesus berkata:

“Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Pesan ini menunjukkan bahwa solidaritas tidak berhenti pada rasa iba. Ia harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Kisah tentang Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati dalam Injil Lukas juga menggambarkan hal yang sama: seseorang bersedia menolong orang lain yang bahkan bukan dari kelompoknya sendiri. Solidaritas sejati lahir ketika seseorang bersedia menanggung beban orang lain sebagai beban bersama.

Dalam iman Kristiani, teladan solidaritas terbesar terlihat dalam kehidupan Yesus Kristus yang rela berkorban demi keselamatan manusia.

Solidaritas dalam Praktik Kepemimpinan Publik

Nilai solidaritas bukan hanya konsep moral atau religius. Dalam sejarah Indonesia, nilai ini juga tampak dalam praktik kepemimpinan publik.

Presiden pertama Indonesia, Soekarno, sering menekankan pentingnya kebersamaan dan gotong royong dalam membangun bangsa. Ia meyakini bahwa Indonesia tidak dapat berdiri jika setiap kelompok hanya memikirkan kepentingannya sendiri.

Hal yang sama juga terlihat dalam kepemimpinan Presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid. Gus Dur dikenal sebagai pemimpin yang membela kelompok-kelompok minoritas dan kelompok yang sering terpinggirkan dalam kehidupan politik nasional. Baginya, demokrasi bukan sekadar kekuasaan mayoritas, tetapi juga keberanian untuk melindungi mereka yang lemah.

Nilai solidaritas semacam ini menjadi ukuran moral penting bagi kepemimpinan publik.

Perspektif Perempuan Tentang Solidaritas

Pandangan tentang solidaritas juga diperkaya oleh pemikiran para intelektual perempuan Indonesia.

Filsuf Indonesia Karlina Supelli menekankan bahwa solidaritas lahir dari kesadaran bahwa manusia hidup dalam jaringan relasi sosial yang saling terhubung. Ia menunjukkan bahwa penderitaan manusia jarang berdiri sendiri; sering kali ia berkaitan dengan struktur sosial yang lebih luas.