Si Biru yang Bekerja Keras Sampai Tua
Ada malam ketika seorang mahasiswa nyaris mengakhiri hidupnya sendiri karena depresi jauh dari rumah, dan Si Biru menjadi ambulans darurat menuju rumah sakit terdekat, dengan kepala seorang mahasiswa lain menjulur dari jendela sambil berteriak keras kepada kendaraan lain di jalan agar memberi jalan. Ada pula subuh ketika seorang istri mahasiswa hendak melahirkan, dan mobil yang sama, dengan pengemudi yang sama, melesat membelah jalanan kota yang masih sepi. “Minggir, minggir!” — begitu teriakan yang berulang kali menggema dari balik jendela Si Biru, menggantikan sirine yang tak pernah mereka miliki.
Tapi Si Biru bukan hanya kendaraan penyelamat nyawa. Ia juga, dengan getir, pernah menjadi mobil jenazah — mengantar pulang jasad-jasad muda yang tak pernah sempat menuntaskan kuliahnya, sebelum akhirnya diberangkatkan lebih jauh ke tanah leluhur mereka di Papua. Di lain waktu, mobil yang sama membawa uskup-uskup yang berkunjung ke kota-kota studi, bahkan sesekali mengantar artis yang diundang mengisi acara sosial mahasiswa Papua. Ambulans, mobil jenazah, kendaraan tamu kehormatan — semuanya dijalani Si Biru dengan kesetiaan yang sama, tanpa membedakan siapa yang sedang ia bawa dan untuk keperluan apa.
Ada satu kebiasaan kecil yang menjadi legenda di kalangan mahasiswa binaan Paul: setiap kali melewati pos pemeriksaan atau razia aparat di era Orde Baru, Paul akan membunyikan klakson dua kali — “tet, tet” — sambil melakukan gerakan hormat sederhana ke arah petugas. Dan hampir selalu, mereka dibiarkan lewat begitu saja. Si Biru, rupanya, sudah dikenal luas sebagai “mobilnya orang Papua” — sebuah pengakuan informal yang lahir bukan dari stiker atau plat khusus, melainkan dari reputasi yang dibangun bertahun-tahun di jalanan yang sama.
Namun perjalanan panjang itu bukannya tanpa insiden yang membuat jantung berdegup kencang. Suatu ketika, dalam perjalanan jauh membawa beberapa mahasiswa, roda Si Biru tiba-tiba terlepas dari porosnya saat mobil sedang melaju. Alih-alih oleng dan terguling, mobil itu justru tetap berjalan seimbang dengan tiga roda, seakan menolak untuk berhenti sebelum benar-benar aman melakukannya. Di kesempatan lain, Paul yang menyetir sendirian tengah malam sementara seluruh penumpangnya tertidur pulas, sempat tertidur sejenak di belakang kemudi — dan mobil itu berhenti tepat di pinggir jurang, seakan ada tangan tak terlihat yang menahan lajunya di detik-detik terakhir. Kedua kisah itu, anehnya, selalu diceritakan ulang oleh Paul dengan nada jenaka, bukan dengan raut ketakutan yang biasanya menyertai kejadian nyaris fatal semacam itu.
Ada pula anekdot yang lebih ringan namun tak kalah menggambarkan karakter mobil ini: dua kardus uang kolekte gereja hasil Aksi Puasa Pembangunan sempat “hilang” selama tiga minggu penuh, tersimpan begitu saja di jok belakang Si Biru yang memang tak pernah dikunci. Tidak ada yang mengambilnya. Tidak ada yang mencurigainya hilang dicuri. Ia hanya lupa terselip, dan ditemukan kembali utuh ketika akhirnya dicari. Kisah kecil ini, di tengah begitu banyak drama besar yang dialami Si Biru, justru menyimpan pesan yang mungkin paling dalam: tentang kepercayaan yang dibangun sebuah komunitas kecil di tanah rantau, di mana barang berharga bisa tertinggal berminggu-minggu tanpa rasa was-was.
Tiga puluh lima tahun adalah waktu yang panjang untuk sebuah mobil terus bekerja tanpa jeda berarti. Sama panjangnya dengan waktu yang dihabiskan Paul Sudiyo mendampingi generasi demi generasi mahasiswa Papua, menyaksikan mereka tumbuh dari anak rantau yang canggung menjadi bupati, sekretaris daerah, hingga pejabat tinggi negara. Ketika di usia senja Paul akhirnya kembali menjejakkan kaki ke pedalaman Papua Tengah — ke Epouto, ke Paniai, tempat ia memulai segalanya sebagai diakon muda — lingkaran perjalanan hidupnya seakan menutup dengan sendirinya. Dari pedalaman Papua yang membentuknya, ke jalanan Jawa yang ditempuhnya bersama Si Biru, dan kembali lagi ke tanah yang sama, kali ini sebagai seorang tua yang disambut air mata haru oleh mereka yang masih mengingat namanya.
Si Biru sendiri, seperti pemiliknya, kini menua. Warna birunya yang cerah kini ditemani beberapa goresan dan bekas pemakaian bertahun-tahun, mesinnya semakin sering perlu dirawat. Tapi bagi siapa pun yang pernah menumpanginya — baik dalam keadaan sehat, sakit, gembira, atau berduka — mobil biru itu akan selalu diingat bukan karena kemewahannya, melainkan karena kesetiaannya. Ia bekerja keras, tanpa pernah mengeluh, sampai tua. Persis seperti manusia yang selama puluhan tahun duduk di belakang kemudinya.
Ada sesuatu yang jujur dari cara sebuah mobil tua menyimpan sejarah. Ia tidak memilih siapa yang ditumpanginya, tidak bertanya apakah penumpangnya sedang menuju kelahiran atau kematian, sedang membawa kabar gembira atau kabar duka. Ia hanya berjalan, terus berjalan, selama mesinnya masih mau menyala dan rodanya masih mau berputar — persis seperti panggilan yang dijalani Paul Sudiyo sendiri sepanjang hidupnya. Tidak banyak orang yang menulis riwayat hidup lewat sebuah kendaraan. Tapi bagi ribuan anak muda Papua yang pernah dijemput, diantar, disembuhkan, atau bahkan diberangkatkan pulang untuk terakhir kalinya lewat mobil biru tua itu, Si Biru bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah saksi bisu dari sebuah pengabdian yang tidak pernah mencari sorotan, yang bekerja di balik layar sejarah besar Papua — satu perjalanan sunyi setiap kali klakson dua kali berbunyi, dan satu hormat sederhana yang selalu berhasil membuka jalan. Kisah Si Biru terpatri apik pada Bab X: “Si Biru Yang Bekerja Keras Sampai Tua” Buku Otobiografi Paul Sudiyo berjudul “Petualangan Di Tengah Kota untuk Papua” (Cetakan Pertama, Agustus 2026). (*)
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.





















