Selain itu, Marianus juga meminta aparat bertindak tegas memberantas peredaran miras ilegal yang menurutnya kerap memicu tindak kekerasan di wilayah Pomako.

“Mereka beli dari sekitar Mapurujaya, lalu dijual lagi secara sembunyi-sembunyi. Kalau ada razia, miras itu direndam di bawah kolong rumah atau dibuang sementara di sampah-sampah, nanti setelah aman dijual lagi,” ungkapnya.

Menurut Marianus, persoalan miras di Pomako sudah menjadi masalah yang berulang dan sering memicu konflik antarwarga. Ia berharap razia dilakukan secara serius dan melibatkan berbagai pihak, mulai dari kepala kampung, kepala distrik, kelurahan, RT, hingga tokoh masyarakat setempat.

“Polisi tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada dukungan pemerintah kampung dan masyarakat. Selama ini sering ada informasi bocor sebelum razia, sehingga penjual sudah lebih dulu menyembunyikan barangnya,” ujarnya.

Ia juga meminta agar setiap barang sitaan miras yang diamankan saat razia, termasuk ketika kapal sandar di Pelabuhan Pomako, langsung dimusnahkan pada hari yang sama bersama masyarakat agar tidak menimbulkan kecurigaan.

“Dulu saya pernah terlibat razia bersama polisi. Barang sitaan kami simpan dan musnahkan bersama-sama. Transparansi itu penting supaya tidak ada dugaan permainan,” pungkasnya. **