Pesan Uskup Bernardus Bofitwos Baru, OSA kepada Ratusan Krismawan-Krismawati Paroki Santo Stefanus Sempan Timika
Timika,papuaglobalnews.com – Ratusan umat Katolik di Paroki Santo Stefanus Sempan Timika menerima Sakramen Krisma dari Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, Uskup Timika pada Minggu 18 Januari 2026.
Uskup Bernardus, dalam homilinya, menyampaikan pesan kuat untuk direnungkan para krismawan-krismawati.
Ia menegaskan bahwa sejak manusia masih berada dalam rahim ibu, Tuhan telah merancang, membentuk, memberi tugas dan menetapkan tujuan hidup masing-masing pribadi.
“Tugas yang diberikan Tuhan disertai talenta, bakat dan kemampuan. Talenta atau bakat itu berkembang melalui bantuan orang lain, bukan dengan sendirinya. Pertama oleh keluarga, orangtua, kerabat dan masyarakat, serta melalui pendidikan formal dan non formal. Di sana kemampuan diasah dan ditempa bagi keselamatan umat manusia demi kemuliaan Tuhan,” ujar Uskup.
Tajam Seperti Pedang
Uskup Bernardus mengajak para krismawan merefleksikan makna Sakramen Krisma melalui kisah Yesaya, bahwa sejak dalam kandungan manusia sudah dikenal Tuhan dan diberi tanggung jawab.
“Kita akan tajam seperti pedang yang digunakan prajurit dalam berperang. Pedang memiliki dua mata yang tajam. Bahasa simbolis pedang menunjukan kualitas kemampuan manusia agar sungguh tajam dan dapat dipakai Tuhan dalam perutusan-Nya,” jelasnya.
Ia juga mengutip Surat Paulus kepada Jemaat Efesus 1:4 yang menyatakan bahwa Allah memilih manusia dalam Kristus sebelum dunia diciptakan agar kudus dan tak bercela di hadapan-Nya serta ditetapkan menjadi anak-anak-Nya melalui kasih karunia.
Menurut Uskup, keberadaan manusia bukan kebetulan tetapi karena diadakan oleh “Sang Ada” yaitu Allah. Manusia dibentuk sejak dalam kandungan, dilahirkan, bertumbuh dan dididik hingga remaja, dan proses itu merupakan panggilan hidup dari Tuhan yang kemudian berwujud dalam kehidupan sebagai pastor, suster, frater, bruder, orangtua maupun dalam pekerjaan.
“Kalau kita orang Katolik hidupnya tidak tajam maka kebalikannya adalah tumpul. Kalau tumpul, pedang itu tidak berarti apa-apa,” tegas Mgr. Bernardus.
Karena itu, umat diharapkan mengasah ketajaman aspek spiritual, intelektual, moral, talenta-bakat, sosial dan lainnya.
Uskup menegaskan, jika orang Katolik tidak tajam maka dapat menjadi “sampah” dalam kehidupan masyarakat karena dianggap tidak berguna, menjadi beban bagi keluarga, gereja dan masyarakat serta berpotensi menjadi aktor konflik dan parasit sosial.
Ia meminta para krismawan terus mengasah talenta yang diberikan Tuhan sejak dini dalam hal-hal kecil maupun kompleks agar menjadi berkat bagi banyak orang.
Dalam bacaan Injil, Uskup menggarisbawahi figur Yohanes Pembaptis yang berperan sebagai guru yang menghantar murid-murid bertemu Guru Sejati yakni Yesus.
“Peran Yohanes Pembaptis itu menjadi peran kita semua,” katanya.
Penegasan untuk Dunia Pendidikan
Dari refleksi itu, Uskup Bernardus mengaitkan persoalan tenaga pendidik di sekolah-sekolah YPPK yang menurutnya mengalami kemunduran secara kualitas sehingga anak-anak belum mampu bersaing dengan sekolah lain.
“Guru dipanggil dan diutus, bukan kebetulan, bukan mencari pekerjaan dan uang. Guru adalah perpanjangan tangan seperti Yohanes untuk mengajarkan iman dan kasih menuju kebenaran,” tegasnya.
Ia juga menyoroti mentalitas kapitalistik dalam dunia pendidikan yang lebih menekankan intelektual dan teknologi sambil mengabaikan pendidikan karakter, moral-spiritual dan pembentukan manusia holistik.
Menurutnya, pendidikan telah menjadi proyek yang berkaitan dengan uang sehingga setiap pergantian pemerintahan diikuti pergantian menteri dan kurikulum, dan masyarakat menjadi korban.
Makna Sakramen Krisma
Terkait Sakramen Krisma, Uskup menjelaskan bahwa dalam Gereja Katolik terdapat tujuh sakramen, namun menurut Santo Agustinus terdapat sekitar 30 sakramen dalam pengertian simbol atau tanda.
“Minyak Krisma adalah Sakramen Krisma yang diberikan dengan minyak disertai kata-kata imam atau uskup. Disebut forma adalah kata-kata ‘Terimalah karunia Roh Kudus’, sementara materia adalah minyak Krisma,” jelasnya.
Sebagai Katolik sejati yang telah menerima Krisma, umat dituntut berani berbicara tentang kebenaran, berani menolak ajakan curang seperti korupsi dan menipu, serta mengambil uang hanya dari hasil jerih payah sendiri.
Jika tidak, kata Uskup, umat hanya mengikuti seremonial belaka seperti orang Farisi Saduki hanya mengejar identitas agar disebut Katolik atau sekadar memenuhi syarat administrasi negara.
Dengan menerima Krisma pula umat dipanggil menjadi saksi, menjadi dewasa dalam iman dan bertindak sesuai roh Allah bukan roh manusia dan dunia.
Uskup mendorong para krismawan-krismawati untuk rajin mendaraskan doa Novena Roh Kudus dan rosario setiap hari sebagai sarana memurnikan diri agar tidak dikuasai roh jahat.
“Bisikan roh Allah hanya memberitahu satu kali,” pungkasnya. **











