Berdasarkan hasil monitoring, Marianus menyampaikan para mahasiswa dan pelajar mengaku kebutuhan dasar mereka, termasuk uang saku, selama ini telah terpenuhi dengan baik. Namun demikian, masih terdapat kebutuhan pendukung yang perlu dilengkapi, seperti laptop dan komputer untuk menunjang proses belajar dan penyelesaian tugas kuliah.

Ia mengakui, meskipun seluruh kebutuhan nantinya dipenuhi oleh YPMAK, tetap diperlukan pengawasan yang melekat terhadap para penerima beasiswa.

Selain itu, Marianus juga mengungkapkan adanya keluhan dari sejumlah dosen terkait mahasiswa Kamoro yang kurang betah menjalani studi di luar daerah. Beberapa mahasiswa memilih pulang ke Timika dengan alasan libur dan tidak kembali ke kampus.

Menindaklanjuti informasi tersebut, Marianus bersama tim berencana memanggil mahasiswa yang bersangkutan setelah kembali dari Manokwari untuk mengetahui alasan mereka tidak betah di kota studi, padahal dari sisi pembiayaan tidak mengalami kendala.

Sebagai tokoh adat, Marianus menilai jumlah SDM putra-putri Kamoro yang telah siap bersaing masih sangat terbatas. Karena itu, ia mendorong para penerima beasiswa untuk memanfaatkan kesempatan yang diberikan dengan belajar sungguh-sungguh di kampus serta mengikuti berbagai pelatihan dan kursus sebagai bekal nonakademik.

Menurutnya, kemampuan nonakademik sangat penting untuk mendukung kesiapan menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

“Jangan sampai setelah tamat menjadi pengangguran. Menghadapi dunia kerja tidak hanya mengandalkan ijazah, tetapi juga kemampuan dan keterampilan nonakademik yang dapat menjadi nilai tambah,” ujarnya.

Marianus menyayangkan dari 12 anak Kamoro yang saat ini menempuh studi di Manokwari, terdapat beberapa yang memilih kembali ke Timika. Sementara mahasiswa Kamoro lainnya tersebar di sejumlah kota studi seperti Pulau Jawa, Manado, dan daerah lainnya.

Terkait hal tersebut, Marianus menegaskan peran orang tua sangat penting dalam mengawasi dan memberikan motivasi kepada anak-anak selama menjalani pendidikan.

“Kesuksesan anak-anak kita bukan hanya menjadi tanggung jawab YPMAK dan LEMASKO, tetapi juga orang tua. Kalau mereka datang dan minta pulang, harus ditanya alasannya dan didorong untuk kembali melanjutkan studi di kota tempat mereka belajar,” pungkasnya. **