Pengurus LEMASKO Monitoring dan Evaluasi Pelajar dan Mahasiswa di Kota Studi Manokwari
Timika,papuaglobalnews.com – Pengurus Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (LEMASKO) melaksanakan monitoring dan evaluasi rutin terhadap pelajar dan mahasiswa di Kota Studi Manokwari selama tiga hari, mulai Senin hingga Rabu, 15–18 Juni 2026.
Wakil Ketua I LEMASKO, Marianus Maknaepeku, mengucapkan terima kasih kepada PT Freeport Indonesia yang telah memberikan dukungan kuat kepada lembaga adat melalui mitranya, Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) putra-putri Kamoro melalui dukungan pembiayaan pendidikan dan berbagai program pembinaan.
“Kami dari lembaga adat berharap kerja sama PT Freeport dengan mitra-mitranya seperti YPMAK dan RSMM perlu terus ditingkatkan,” kata Marianus kepada papuaglobalnews.com melalui sambungan telepon dari Manokwari, Senin malam 15 Juni 2026.
Marianus meyakini kerja sama yang terjalin dengan baik akan menjadi ruang pembuktian dalam menyiapkan masa depan generasi Kamoro yang unggul.
“Jadi bukan sekadar memberikan uang. Anak-anak ini perlu diberikan bimbingan, pendampingan, dan evaluasi yang intensif agar generasi yang dihasilkan benar-benar siap, baik dari sisi kemampuan intelektual maupun keterampilan lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan monitoring dan evaluasi seperti ini telah dijalankan tahun lalu di sejumlah kota studi di Pulau Jawa, sedangkan tahun ini difokuskan di Manokwari.
Melalui monitoring tersebut, tim tidak hanya mendengar dan menampung berbagai kendala yang dihadapi pelajar dan mahasiswa penerima beasiswa YPMAK, tetapi juga menerima masukan dari para pembina, guru, dan dosen di kampus. Seluruh hasil evaluasi tersebut akan disampaikan kepada YPMAK untuk ditindaklanjuti.
“Ini menjadi tugas kami untuk mendengar dan menampung semua aspirasi dari anak-anak kita maupun dari kampus. Selanjutnya kami sampaikan kepada YPMAK dalam rapat nanti agar kebutuhan mereka dapat dijawab,” jelasnya.
Marianus menegaskan besarnya biaya pendidikan yang telah dikeluarkan harus sejalan dengan kualitas SDM yang dihasilkan.
Menurutnya, program beasiswa harus mampu meningkatkan kualitas SDM generasi Kamoro dan Amungme agar lebih baik di masa depan. Dengan demikian, tidak muncul opini negatif terhadap PT Freeport Indonesia bahwa kekayaan alam yang melimpah tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas SDM masyarakat adat di wilayah Mimika.
“Sekarang kami di LEMASKO turun langsung ke setiap kota studi untuk melihat dan mendengar kendala yang dihadapi serta memastikan mereka benar-benar menjalani pendidikan,” katanya.
Berdasarkan hasil monitoring, Marianus menyampaikan para mahasiswa dan pelajar mengaku kebutuhan dasar mereka, termasuk uang saku, selama ini telah terpenuhi dengan baik. Namun demikian, masih terdapat kebutuhan pendukung yang perlu dilengkapi, seperti laptop dan komputer untuk menunjang proses belajar dan penyelesaian tugas kuliah.
Ia mengakui, meskipun seluruh kebutuhan nantinya dipenuhi oleh YPMAK, tetap diperlukan pengawasan yang melekat terhadap para penerima beasiswa.
Selain itu, Marianus juga mengungkapkan adanya keluhan dari sejumlah dosen terkait mahasiswa Kamoro yang kurang betah menjalani studi di luar daerah. Beberapa mahasiswa memilih pulang ke Timika dengan alasan libur dan tidak kembali ke kampus.
Menindaklanjuti informasi tersebut, Marianus bersama tim berencana memanggil mahasiswa yang bersangkutan setelah kembali dari Manokwari untuk mengetahui alasan mereka tidak betah di kota studi, padahal dari sisi pembiayaan tidak mengalami kendala.
Sebagai tokoh adat, Marianus menilai jumlah SDM putra-putri Kamoro yang telah siap bersaing masih sangat terbatas. Karena itu, ia mendorong para penerima beasiswa untuk memanfaatkan kesempatan yang diberikan dengan belajar sungguh-sungguh di kampus serta mengikuti berbagai pelatihan dan kursus sebagai bekal nonakademik.
Menurutnya, kemampuan nonakademik sangat penting untuk mendukung kesiapan menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.
“Jangan sampai setelah tamat menjadi pengangguran. Menghadapi dunia kerja tidak hanya mengandalkan ijazah, tetapi juga kemampuan dan keterampilan nonakademik yang dapat menjadi nilai tambah,” ujarnya.
Marianus menyayangkan dari 12 anak Kamoro yang saat ini menempuh studi di Manokwari, terdapat beberapa yang memilih kembali ke Timika. Sementara mahasiswa Kamoro lainnya tersebar di sejumlah kota studi seperti Pulau Jawa, Manado, dan daerah lainnya.
Terkait hal tersebut, Marianus menegaskan peran orang tua sangat penting dalam mengawasi dan memberikan motivasi kepada anak-anak selama menjalani pendidikan.
“Kesuksesan anak-anak kita bukan hanya menjadi tanggung jawab YPMAK dan LEMASKO, tetapi juga orang tua. Kalau mereka datang dan minta pulang, harus ditanya alasannya dan didorong untuk kembali melanjutkan studi di kota tempat mereka belajar,” pungkasnya. **

















