Ia menjelaskan proses kerjanya air masuk melalui pipa yang dipasang di sungai terhubung dengan mesin. Selanjutnya mesin mengolah dan hasilnya langsung dikirim melalui satelit ke sistem data Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta. Data tersebut oleh Kemerinterian melanjutkan ke aplikasi di DLH Mimika.

Berdasarkan data yang tampil di layar monitor komputer sistem dapat terbaca air mengalami tercemar rendah berwarna merah, hijau, jernih dan layak minum. Alat ini mengolah data kualitas air setiap hari.

Ia mengungkapkan baru-baru ini di Pomako air laut terjadi tercemar sedang oksigen dalam udara berkurang. Ini disebabkan banyak kapal ikan sandar di pelabuhan dan mencuci sehingga membuang banyak bahan bakar minyak. Kondisi laut menjadi tercemar dengan BBM atau oli atau yang disebut CO2.
Akibatnya banyak ikan menjauh dari Pomako mencari tempat yang aman.

Sistem kerja alat ini dalam mengolah data secara otomatis tanpa sentuhan tangan manusia. Dalam pengolahan ini akan menghasilkan delapan item.

“Fungsi alat ini untuk mendeteksi awal kualitas air,” katanya. **

Catatan Redaksi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer

Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.

Hak Jawab & Koreksi Berita

Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.