Misa Malam Paskah di Paroki St. Stefanus Sempan Timika, RP. Gabriel Ajak Umat Kristiani Jadilah Terang Bagi Sesama
Menurutnya, kisah Bangsa Israel melewati Laut Merah adalah kisah pembebasan dari ketakutan akan Firaun yang menjajah dan menganiaya mereka. Firaun masa kini adalah rasa tidak aman, konflik yang tidak kunjung selesai dan kemiskinan di tengah kelimpahan.
“Kita sedang dituntun oleh Tuhan menuju tanah terjanji, di mana keadilan dan kedamaian benar-benar dirasakan oleh setiap kita yang hadir dalam perayaan ini dan semua penghuni di tanah ini. Ini menjadi kerinduan dan harapan bisa terwujud,” ujarnya.
Momen perayaan Malam Paskah, umat Kristiani kembali memperbaharui janji baptis. Air baptis adalah rahim sekaligus makam.
“Kita dikuburkan bersama Kristus dalam kematian-Nya supaya kitapun boleh hidup dalam hidup yang baru. Menjadi manusia baru, manusia Paskah. Berarti tidak lagi membiarkan diri kita diperbudak egoisme, ketidakadilan, dendam dan kebencian melainkan hidup dalam kasih, damai, adil, kebenaran dan penuh persaudaraan,” tegasnya.
- Gabriel juga mengutip kata-kata malaikat yang disampaikan kepada Maria Magdalena dan Maria yang lain ketika datang di kubur Yesus, “Pergilah dan katakanlan kepada murid-murid-Nya.
Para wanita itu diutus mewartakan kabar suka cita kepada para murid di Galilea. Galilea merupakan tempat para murid memulai kehidupan baru sehari-hari.
“Itu berarti, kita dipanggil untuk menjumpai Yesus yang bangkit tidak berhenti hanya dalam perayaan ini. Tetapi berlanjut dalam rutinitas hidup kita, rutinitas kerja, di keluarga, di rumah, di kantor dan di pasar maupun di tempat pelayanan. Di sana kita harus mencari Yesus Kristus itu,”
pesannya.
Ia mengajak umat Katolik Sempan membawa kabar suka cita kebangkitan Kristus ini ke luar sebagaimana sesuai tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2026 “Gerakan Misioner” yang sudah direnungkan selama 40 hari masa tobat.
“Jadilan pembawa damai di manapun kita berada. Bawalah suka cita ini ke rumah kita. Jangan lagi ada panah dan dendam, sakit hati. Karena Kristus telah mematahkan panah maut. Mari kita jadikan Papua, Timika sebagai makam yang kosong. Dimana segala kebencian telah ditinggalkan dan yang keluar darinya manusia baru, yang siap menjadi saksi Tuhan yang baru ini,” pungkasnya. **
Gabriel Ngga, OFM sambil membawakan lilin Paskah bersama misdinar berjalan berarak menuju altar sambil menyalakan lilin kepada umat yang mengikuti perayaan ekaristi malam Paskah, Sabtu 4 April 2026. (Foto – Maria Goreti Barowati/papuaglobalnews.com).

























