Mimika Sebelum Peta
Tetapi jangan pula Amungme dibekukan menjadi “masyarakat gunung” yang romantis dan tak berubah. Sejarah mereka adalah sejarah pilihan. Berhadapan dengan gereja, sekolah, negara, migrasi, perusahaan, uang, dan kekerasan, mereka menerima, menolak, berunding, memanfaatkan, mengubah, dan mengorganisasi diri. Tanah pegunungan tak cukup dijelaskan sebagai sumber mineral atau lahan produksi. Ia memuat hubungan antara manusia, leluhur, dan masa depan. Maka keputusan administratif yang mengubah status tanah tidak hanya memindahkan kepemilikan di atas kertas. Ia memutus relasi dan makna yang menopang hidup.
Dua Dunia, Satu Bentang
Keseimbangan antara Amungme dan Kamoro tak berarti membelah esai menjadi dua bagian sama panjang lalu menganggap perkara selesai. Keseimbangan yang lebih jujur mengakui dua sejarah yang berbeda, sekaligus menelusuri hubungan yang mengikat hulu dan hilir. Lingkungan, bahasa, tradisi, dan pengalaman mereka tidak sama. Tetapi batas ekologis bukan tembok kedap: sungai, jalur, barang, kabar, perkawinan, konflik, dan kebijakan dari luar menyambung ruang-ruang itu. Mimika karena itu bukan dua masyarakat yang berdiri sendiri, melainkan satu bentang yang terdiri atas banyak dunia sosial yang berhubungan secara timpang. Prinsipnya dua suara, satu hubungan: pengalaman keduanya dihadirkan terpisah bila memang berbeda, lalu dipertemukan pada jalinan ekologis dan politik yang mengikat mereka.
Pertalian ini menjadi ‘nge’ begitu kita memasuki sejarah tambang. Tambang berdiri di pegunungan, tetapi dampaknya menjalar ke dataran rendah; yang berubah di hulu menggerakkan perubahan di sungai, pesisir, dan ruang hidup Kamoro. Dawson menunjukkan sejarah lingkungan Freeport tak bisa dilepaskan dari sejarah Amungme dan Kamoro, yang terdampak sekaligus punya agensi menghadapi perubahan. Itu pula sebabnya istilah “masyarakat Mimika” mesti dipakai cermat. Ia berguna sebagai nama wilayah politik, tetapi tak boleh menghapus keragaman di dalamnya. Kabupaten dapat menyatukan administrasi; ia tidak otomatis menyatukan sejarah, bahasa, hak, dan pengalaman.
Mimika dalam Gambar Orang Luar
Mimika memasuki arsip asing lewat catatan pelayaran, laporan misi, koleksi benda, peta, dan ekspedisi. Papua Erfgoed mencatat tonggak-tonggaknya: pelayaran Jan Carstensz pada 1623, ekspedisi VOC 1636, Ekspedisi Triton 1828, ekspedisi Inggris 1910–1911, pos administrasi Belanda di Kokonao 1926, dan pos misi Katolik setahun kemudian.
Catatan-catatan itu penting, tetapi tidak netral. Ia merekam apa yang dilihat pelaut, pejabat, misionaris, atau peneliti dari sudut pandangnya sendiri. Ekspedisi Mimika 1935–1936 pimpinan H.J.T. Bijlmer, misalnya, berharga untuk menelusuri rute dan jejak produksi pengetahuan kolonial, tetapi orang-orang yang dijumpainya tak boleh diperlakukan sebagai objek pengamatan. Chris Ballard, dalam kajiannya atas ekspedisi British Ornithologists’ Union 1910–1911, mengingatkan bahwa kerja ilmiah semacam itu punya sejarah kekuasaan: mengumpulkan burung, benda, dan informasi berjalan seiring dengan menciptakan kategori kolonial tentang orang Papua. Monografi klasik Jan Pouwer pada 1955 tetap penting bagi sejarah antropologi, namun harus dibaca dalam konteks zamannya. Tak ada arsip yang berdiri sendirian. Setiap arsip perlu dibaca bersama sejarah lisan, pengetahuan adat, dan kesaksian orang-orang yang menjadi subjeknya. Klaim besar tentang asal-usul atau batas wilayah pun semestinya diperiksa silang antara arsip tertulis dan kesaksian lokal.
Peta dari Atas, Peta dari Bawah
Dari atas, peta memberi kesan wilayah adalah perkara selesai: ada garis, nama, warna, dan batas. Dari bawah, dari sungai dan jalur kaki, wilayah tampak sebagai sesuatu yang terus dijalani dan dirundingkan. Peta negara jelas berguna untuk pelayanan publik, perencanaan, hukum, dan pemerintahan. Masalah muncul saat peta administratif dianggap satu-satunya pengetahuan yang sah. Pada titik itu, wilayah adat, jalur leluhur, dusun sagu, tempat sakral, dan ingatan kampung mudah dianggap tak ada, hanya karena tak tercantum dalam dokumen resmi. Karena itu perlu peta berlapis: peta administrasi disandingkan dengan peta ekologis, peta kampung, jalur sungai, wilayah adat, dan konsesi. Selisih antarpeta itu bukan hiasan, melainkan bahan analisis tentang siapa yang diakui dan siapa yang terlewat.
Mimika sebelum peta mengajarkan bahwa sejarah tak selalu dimulai dari dokumen pertama yang ditemukan peneliti. Ia punya kenyataan asali yang bermula dari pertanyaan yang diajukan masyarakat kepada tanahnya sendiri: siapa yang pernah berjalan di sini, siapa yang merawat tempat ini, siapa yang berhak bicara tentangnya, dan apa jadinya bila hubungan itu diputus? Di titik inilah pendekatan ekologis dan interpretatif bertemu. Yang pertama mengingatkan bahwa kehidupan sosial bertumpu pada hubungan konkret dengan air, tanah, hutan, pangan, dan pegunungan. Yang kedua mengingatkan bahwa semua itu tak pernah hanya material; ia punya nama, ingatan, kewajiban, dan makna.
Maka, sebelum menjadi kabupaten, Mimika telah menjadi dunia. Dunia Kamoro di pesisir dan rawa. Dunia Amungme di pegunungan dan lembah. Dunia sungai yang menyambung hulu dan hilir. Dunia leluhur, pertukaran, pangan, perjalanan, ritual, dan cerita.
Kabupaten hanyalah satu bab dalam sejarah Mimika. Ia bukan halaman pertama. SELAMAT HUT KABUPATEN MIMIKA: EME NEME YAUWARE. (*) (Timika, 08-10-2026)
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” — Pramoedya Ananta Toer
Kami menerima kiriman tulisan opini maupun karya jurnalisme warga yang disertai identitas diri serta foto atau gambar pendukung.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dengan penayangan artikel/berita di atas, Anda dapat mengirimkan artikel atau berita berisi sanggahan, koreksi, maupun hak jawab kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.









