Mimika KLB Campak, Dinkes Bentuk Tim Penanggulangan Turun di Kelurahan Kamorojaya dan Kebun Siri
Timika,papuaglobalnews.com – Waspada! Kabupaten Mimika kini masuk Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Mimika per 18 September 2025 terdapat 20 sampel dinyatakan positif dari 138 suspek yang diperiksa di laboratorium Surabaya.
Demikian disampaikan Linus Dumatubun, Kepala Bidang P2P pada Dinas Kesehatan dalam pemaparannya saat rapat lintas sektor guna mengintervensi pencegahan campak di salah satu hotel di Timika pada Sabtu 20 September 2025.
Rapat lintas sektor melibatkan perwakilan Puskesmas Timika, Wania, Kwamki Narama, Karang Senang, Bhintuka dan Limau Asri. Selain pihak Puskesmas juga Lurah Kebun Siri Endang Letsoin bersama Ketua RT dan Lurah Kamorojaya Musdahlifa bersama Ketua RT, Babinsa dan Babinkamtibmas dari Distrik Wania sebagai wilayah terdampak Campak.
Dalam rapat itu disepati pada Senin 22 September 2025, empat Tim Survei Cakupan Komunitas (SCK) yang dibentuk Dinkes turun pendatataan dan pengambilan sampel 20 rumah yang mempunyai balita usia 9 bulan dan kurang dari 16 tahun di Kelurahan Kebun Siri dan Kamorojaya.
Linus Dumatubun menjelaskan berdasarkan data kasus campak pada tahun 2023 terdata 320 kasus, tahun 2024 menurun 65 kasus dan periode Januari-18 September 2025 naik 138 suspek.
Linus menegaskan masyarakat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan namun perlu ada kerjasama dari semua pihak dalam mengedukasi dan menyadarkan warga.
Sementara dr. Jeanne Rini Poespoprodjo, Sp.A.,M.Sc.,Ph.D spesialis anak RSUD Mimika dalam presentasinya mengharapkan anak tidak boleh sakit campak agar pertumbuhan kesehatan otaknya bagus.
Rini mengharapkan semua pihak untuk mensosialisasikan kepada masyarakat luas (orangtua balita-red) membawa anaknya di Posyandu mendapat pelayanan imunisasi dua kali dan vitamin A untuk meningkatkan imun tubuh. Karena virus campak belum ada obatnya dan dapat sembuh sendiri jika kondisi imunnya kuat.
Anak yang terkena campak mengalami Penumonia, diare, hilang kesadaran dan keluar cairan lewat telinga bahkan menimbulkan kematian.
Pola penularan virus campak lewat napas, sentuhan orang dengan campak atau droplek (cairan ingus atau ludah). Ia mengungkapkan timbulnya kasus campak disebabkan cakupan imunisasi terdapat anak masih rendah.
Kamaludin, Kepala Seksi P2P Dinkes Mimika dalam arahan menjelaskan Tim SCK dalam pendataan 20 rumah dari titik nol rumah terkena campak ke kiri 10 rumah dan ke kanan 10 rumah yang mempunyai balita tanpa melewati rumah lain. Dari 20 rumah itu menjadi dasar menentukan umur berapa yang akan diberikan imunisasi tambahan.
Kamaludin mengungkapkan, KLB campak dinyatakan berhenti apabila tidak ditemukan kasus baru dalam waktu dua kali imunisasi. Ia berpesan kepada Tim SCK dalam pengambilan sampel kepada balita harus atas persetujuan kedua orangtuanya, jika menolak cukup mengambil datanya.
Josua Sinaga, Konsultan Imunisasi Unicef Papua menjelaskan, edukasi kepada masyarakat mencegah campak dengan anak menerima imunisasi lengkap menjadi tanggung jawab semua pihak bukan hanya Dinas Kesehatan. Menuju Papua Emas 2045, anak-anak sebagai generasi harus sehat.
Musdahlifa, Lurah Kamorojaya dalam rapat itu menyatakan siap mendukung pelaksanaan Tim SCK turun melakukan pendataan warganya pada Senin 22 September 2025.
Ia mengakui selama ini pemerintah kelurahan dan RT selalu bersinergi dalam membangu Posyandu. Namun faktor kurangnya kesadaran dan lalai oleh masyarakat sendiri tidak mengantarkan anaknya ke Posyandu.
Ia berharap semua bisa ditangani secara baik agar tidak ada lagi anak-anak di Kamorojaya terkena campak.
Endang Letsoin, Lurah Kebun Siri juga siap mendukung tim SCK memberikan sosialisasi kepada warganya.
Ia memastikan setelah rapat ini akan menyampaikan kepada warga supaya pada hari Senin pagi 22 September 2025 menunggu kedatangan Tim SCK di rumah.
Sementara Yohanes Kayame, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah mengajak tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala distrik, lurah, ketua RT ikut berperan aktif dalam meningkatkan edukasi kepada masyarakat.
Ia menegaskan tenaga kesehatan (Nakes) selalu siap memberikan pelayanan kepada masyarakat. Namun petugas tidak bisa bekerja sendiri dan membutuhkan dukungan kuat dari setiap lapisan masyarat.
Ia menyebutkan terungkapkan kasus KLB campak di Mimika membuktikan dari sisi survalains kesehatan berjalan baik. Namun, ia menegaskan bukan berarti di kabupaten lain di Papua Tengah tidak ada, itu karena sistem penanganan survailansnya tidak berjalan.
Yohanes juga mengajak kepada ibu-ibu terutama Orang Asli Papua (OAP) rutin mengantarkan anaknya untuk mendapatkan pelayanan imunisasi lengkap dua kali. **




































