Selain itu, ia menekakan teknik vocal yang lebih ditujukan membangun sebuah paduan suara agar bisa memiliki suara yang sama atau homogen agar nada-nada yang dibunyikan bisa sama.

Ia juga menyoroti dalam bernyanyi intonasi sangat penting sekali. Sebab dewan juri dalam menilai menyoroti pada sopran satu dan dua. Sopran satu dan dua menjadi sangat indah apabila sopran satu mengambil nada-nada tinggi dengan tanpa pecah.

Emanuel Riyo Maharsanto dalam evaluasinya menyebutkan peserta pertama hingga keempat sudah berusaha menampilkan yang terbaik. Tapi kadang-kadang saat berada di atas panggung penyanyi lupa memberi ruang atau jarak penyanyi satu dengan yang lain. Dengan berdiri sedikit mengambil jarak tujuannya saat bernyanyi lebih mengalir atau bebas.

Ia juga menganjurkan dalam bernyanyi dengan ruang panggung yang luas harus membentuk formasi bernyanyi huruf U terbuka. Tujuannya penyanyi di bagian ujur kiri mudah mengecek suara penyanyi di ujung kanan dan suara bagian tengah memberikan volume untuk penyanyi yang bediri dibagian pinggir.

Selain itu, ia mengingatkan suara yang terlalu semangat bernyanyi harus hati-hati karena akan menjadi dominan. Dan penempatan suara sopran satu, dua dan alto akan jauh lebih baik perlu dicoba-coba posisinya.

“Kalau paduan suara yang altonya kuat sebaiknya posisinya jangan di samping agar tidak berat sebelah, tetapi berada di tengah atau pada posisi tertentu setelah dicoba-coba mana yang paling pas. Dengan posisi yang pas akan berpengaruh pada kualitas dan soliditas paduan suara,” pesannya.

Dalam bernyanyi, ia menegaskan bukan sebatas not dan nada tetapi bernyanyi memberikan kabar sesuai isi teks lagu tersebut. Bernyanyi ada yang bersifat cerita, mengabarkan dan memberi suatu pesan,maka dalam bernyanyi perlu digali lebih untuk memberi nuansa  lagu yang akan dibawakan. **