Saya melihat anak muda yang lulus kuliah, tapi ditolak kerja karena tak punya “marga dalam”. Dunia di mana Dasein sedang menjadi di-sana adalah dunia yang telah disusun agar beberapa keberadaan lebih dianggap “layak ada” dibanding keberadaan yang lain. Di titik pijak nalar ini, saya mengajak kita beranjak masuk pada konsep Heidegger yang sangat penting yaitu care atau Sorge.

Kritik adalah Tindakan Care

Heidegger menyebut bahwa Dasein adalah makhluk yang memiliki care (Sorge). Kita peduli terhadap dunia, terhadap sesama, terhadap masa depan. Maka kritik sosial bukanlah bentuk kemarahan liar. Ia adalah bentuk paling jujur dari care-kepedulian pada “sesama Dasein” yang keberadaannya dihambat oleh struktur kekuasaan.

Kritik kita terhadap nepotisme, bias gender, dan pembungkaman bukan semata-mata penolakan terhadap “ada”, tapi usaha untuk menciptakan dunia di mana lebih banyak orang bisa hadir secara utuh, bebas, dan bermakna.

Kita ingin dunia yang memungkinkan seorang mama Papua tak hanya menjual pinang, tapi juga menentukan arah kebijakan kampungnya. Kita ingin dunia dimana seorang anak muda tak hanya disuruh diam demi sopan santun, tapi dihormati sebagai “Dasein” yang berpikir dan peduli.

Menuju Dunia Baru: Ruang Keberadaan Bersama

Di Tapare Mimika, dunia itu bisa berarti: siapa yang berhak bicara dalam musyawarah kampung, siapa yang mendapat dana Otsus, siapa yang disebut “tidak tahu diri”, siapa yang boleh maju dalam jabatan, dst. Lapak pinang mama Papua berada di tengah dunia itu. Ia bukan sekadar ruang jual beli, tapi ruang pergulatan hidup, di mana keberadaan terus diuji oleh ekonomi, adat, relasi kuasa, dan politik.

Heidegger memperingatkan bahaya hidup secara tidak otentik (uneigenlich) adalah ketika Dasein larut dalam das-man, dalam suara mayoritas, dalam kebiasaan yang menumpulkan kesadaran. Tapi di lapak pinang, ada semacam perlawanan sunyi. Mama itu mungkin tak menulis esai atau berpidato di mimbar, tapi kehadirannya adalah bentuk eksistensi yang keras kepala: “Saya ada di sini. Saya bertahan. Dunia boleh menyingkirkan saya, tapi saya tak akan hilang.” Di sinilah filsafat bertemu tubuh. Di sinilah Dasein bukan hanya istilah akademik, tetapi daging dan peluh, ketabahan dan air mata, keberanian untuk tetap ada.

Dalam rumah besar eksistensialisme Heidegger, teori kritik Heidegger dibangun secara fundamental, yaitu lewat pembongkaran cara berpikir Barat sejak Plato dst, lalu ia memulai pembangunan fondasi berpikir modern (mulai dengan Subjektivitas modern, ruang teknologi dan peradaban modern, LUPA akan pertanyaan tentang ada/Sein, dan kritik diam: Bahasa). Kritik Heidegger adalah kritik terhadap dasar pemikiran itu sendiri- sebuah fundamentale Kritik.

Dari Tapare Mimika kita menulis bukan untuk menyerang tradisi atau budaya. Kita menulis agar tradisi menjadi ruang hidup bersama, bukan pagar ekslusif yang melindungi nepotisme. Kita menulis agar budaya tidak membungkam keberadaan, tetapi merawatnya.

Kita sepakat dengan ajakan untuk “mengelola energi yang ada”. Tapi energi itu tak bisa dikelola tanpa menamai ketimpangan yang menghisapnya. Kritik adalah langkah pertama untuk menyembuhkan dunia, karena tanpa menyebut luka, bagaimana mungkin kita bisa merawatnya?

Saya percaya sedang menjadi Dasein hari ini di Tapare Mimika atau dimana saja kita berada, menjadi dasein yang sadar, bukan sekadar makhluk reaktif. Tapi justru karena kita“menjadi”, maka kita bersuara. Karena kita menyadari keberadaan kita di dunia yang tidak adil, maka kita menulis. Karena kita ada, kita mengkirit-bukan demi menghancurkan melainkan demi untuk membuka ruang agar Dasein yang lain juga bisa ada secara utuh. Kritik yang dibangun adalah awal dari perjalanan “menjadi ada.” (Isi tulisan tanggung jawab penulis)