Mendengar itu, Gubernur Malaka D. Afonso de Albuquerque menyampaikan jika ingin bahagia terus selama hidup di dunia dan kehidupan kekal diakhirat harus masuk mengikuti dan belajar agama Katolik.

Setelah mendengar penjelasan Gubernur Malaka, Moang Lesu menyatakan kesanggupan untuk belajar agama Katolik, menghayati iman Katolik secara baik. Pada saat itu Moang Lesu dibaptis dengan nama Don Aleksius Simenes da Silva. Setelah dibaptis, Don Aleksius Simenes da Silva kembali ke Sikka bersama seorang guru agama Katolik bernama Agustinho Rosario da Gama.

“Jadi bapa ibu mendengar ada nama di belakangnya da Gama atau da Silva itu mereka turunan asli Portugis yang datang di Sikka ini untuk sebarkan agama Katolik. Keturunannya sampai saat ini masih ada,” jelas Gregorius Tanela, juru pemeliharaan Gereja St Ignatius Loyola Sikka kepada papuaglobalnews.com dalam kunjungan di Gereja Tua Sikka pada Minggu 29 Juni 2025.

Setelah Don Aleksius Simenes da Silva dikukuhkan sebagai raja, maka berdirilah kerajaan Sikka pada akhir tahun 1700 atau awal tahun 1800. Pada saat itu menjadi cikal bakal dimulainya bertumbuhnya ajaran iman Katolik.

Dengan dimulainya penyebaran agama Katolik, kapal-kapal Portugis yang datang berlayar berlabuh di Sikka dengan tujuan dagang mencari rempah-rempah ke Maluku, Tim-Tim-Dili.

Gregorius menceritakan berdasarkan jalur yang pernah dilaluinya lintasan penyeberangan Laut Sawu masuk Konga hingga Dili (Timor Leste) sudah dekat dengan perbatasan Maluku.
Sehingga di Konga menjadi basis pelayanan penyebaran agama Katolik.

Ia menjelaskan dibangunnya Gereja Santo Ignatius Loyola di Desa Sikka yang berdiri kokoh ratusan tahun hingga kini bekerjasama dengan Raja Sikka ke 11 Don Andreas Jati Simenes da Silva.

Ia menyebutkan pada awal hadirnya agama Katolik tahun 1500 dalam pelayanan masih menggunakan bangunan darurat. Gerejanya bernama Santa Lusia berada di tengah Kampung Sikka.

Namun setelah terbentuk wilayah Nusa Tenggara dimana pemerintahan Portugis menyerahkan kepada pemerintahan Belanda baru dibangun oleh Pater Yohanes F. Engbers, SJ berkebangsaan Portugis bekerjasama dengan Raja Sikka ke 11 pada tahun 1893 dan diresmikan pada tanggal 24 September 1899.
Bangunan gereja ini degan panjang 47 meter dan lebar 12 meter merupakan hasil rancangan Pastor Antonius Dijkmans, arsitek yang juga ikut mendesain Gereja Katedral Jakarta. Konstruksi bangunan menggunakan kayu jati dan semen yang didatangkan dari Pulau Jawa.

Bangunan gereja yang berusia ratusan tahun ini pada tsunami dan gempa bumi pada 12 Desember 1992 lalu tetap berdiri kokoh.

Pada bagian atas pintu masuk bertuliskan ‘Sawe-sawe potat dese, Poi Tuhan gera hude” adalah ungkapan dalam bahasa Sikka yang berarti “Semua akan hilang, hanya Tuhan yang kekal”.

Ia mengatakan wilayah Nusa Tenggara sesungguhnya dari awal Belanda tidak melirik dengan alasan kondisi topografisnya kurang subur. Belanda lebih cenderung memilih berlayar ke wilayah Sumatera, Kalimantan, Papua dan Maluku untuk mengambil hasil bumi berupa kopi, cengkeh, pala dan kayu jati.

“Jadi sebenarnya dari awal Belanda belum lirik wilayah Kita. Sehingga kita bilang Belanda jajah Indonesia hingga 350 tahun lebih untuk wilayah Flores tidak sampai,” tutur Gregorius.

Adanya gereja tua di Sikka ini selain menjadi daya tarik bagi siapa saja yang datang mengunjungi dan berdoa, kini menjadi sumber berkat bagi masyarakat setempat. Setiap pengunjung hendak masuk dalam gereja wajib mengenakan sarung atau selempang. Sekali pakai dikenakan biaya sewa 10.000. **