Oleh : Dr. Ignasius Ngari, OFM

“Tidak banyak literatur yang mengungkap biografi Prof, Nico Syukur Dister, termasuk juga pemikirannya.”

Demikianlah pernyataan dalam Studi Kritis Pemikiran Nico Syukur Dister tentang Pengalaman Keagamaan oleh Idrus Ruslan dalam Jurnal Kalam Vol 7, No 2 (2013:3).

Sebagai orang yang dididik dan dimintai secara tidak langsung untuk menggantikannya di masa tua, pernah hidup bersama dengannya dan yang secara langsung mewawancarainya, saya merasa berutang untuk menulis biografinya.

Nama lengkapnya Nicolas M.J.A. Syukur Dister. Ia biasa menulis namanya, Sdr,  Nico S. Dister. Orang-orangnya menyebutnya “Pater Nico”. Orang serumahnya biasa memanggil ‘formal’ Saudara Nico.

 Negeri Belanda

Ia berkebangsaan Belanda yang kemudian mengambil kewarganegaraan Indonesia dan mengambil nama Syukur sebagai namanya karena nama tersebut, katanya mewakili nama yang tersebar di seluruh Indonesia.

Ia lahir di Maastricht (Nederland) pada 7 Maret 1939 dari orang tua bernama, Yohanes H. Nikolaus Dister dan Maria Katarina. Ia memiliki dua orang saudara kandung bernama Lily Dister dan Josef Dister. Ketika di kelas VII-X, Sekolah Menengah Umum, Nico mendapat pengajaran agama dari dua guru agama, yang kedua-duanya diidolakan yakni, Pastor Hari Mulders, SJ dan Laetus Keulaerds OFM.

Tahun 1954, Nico mengikuti rombongan siswa berziarah ke Lourdes. Pada saat itu, ia sudah berkeinginan untuk menjadi seorang pastor dalam Gereja Katolik. Dalam berjalanan tersebut ia timbang-menimbang antara menjadi imam Serikat Yesus (SJ) atau Fransiskan (OFM). Menurut pendapat pastor Hari, ia dilahirkan untuk menjadi Yesuit. Karena tidak yakin akan tujuan kelahiran yang disebut putra St. Ignasius itu, Nico mulai membaca riwayat hidup St. Ignasius dan St Fransiskus dari Asisi.

Merasa tertarik dengan biografi dari St. Fransiskus Asisi, pada 1955, ketika berada di kelas XI – XII, dengan bantuan putra St. Fransiskus Nico pindah ke kolese Misi yang merupakan salah satu dari ketiga Seminari Menengah Fransiskan di Belanda. Setelah masa timbang-menimbang itu, pada tahun 1957, Nico memasuki masa novisiat OFM, sebuah tempat untuk memulai hidup religius yang juga sebagai jalan menjadi imam dari tarekat religius.

Dari tahun 1958 hingga 1965, Nico memasuki pendidikan calon imam selama enam tahun. Pada saat itu yang dipelajari adalah filsafat, teologi dan Ilmu pengetahuan Alam. Sebagai Saudara Muda, sebutan dalam tarekat OFM itu, Nico amat terkesan oleh pengajaran konfrater Hans (Donulus) van Munster, OFM, ahli filsafat Kierkegaard dan di kemudian hari sekretaris KWB (Konferensi Waligereja Belanda).

Selain sebagai dosen filsafat di philosophicum fransiskan Belanda di Venray, tempat Saudara Muda OFM berstudi, saudara Donulus juga Magister Saudara Muda (1958-1959). Beliau memberi Nico dan teman-temannya pengajaran agama dengan judul: “Kernvragen rond het Christendom” (Pertanyaan inti sekitar Agama Kristani). Karena bahan ajaran Magister ini bahwa Nico merasa sedemikian gembira dan bersyukur menjadi seorang Kristiani. Ini juga yang mendorongnya untuk memberikan sukacita kepada orang lain dari negara lain. Pengajaran beliau inilah yang paling menginspirasi Nico untuk dapat membatinkan semangat zaman untuk bermisi.

Dalam semangat untuk menjadi misionaris, Nico ditabiskan imam 8 Maret 1964. Ia  tak langsung diutus ke tanah misi. Ia harus mempersiapkan diri menjadi misionaris yang handal dalam waktu yang lebih panjang. Karena itu, dari tahun 1965 hingga 1968, Nico menempuh studi lanjut filsafat di Univesitas Katolik Leuven (Belgia) dengan perhatian khusus untuk psikologi dan sejarah filsafat.

Filsafat rupanya bukan titik akhir studinya, pada 1968 hingga 1971, ia menempuh pendidikan spesialis dalam bidang teologi di Wilhelmsuniversitaet, kota Muenster, Jerman di mana waktu itu Karl Rahner dan Johan-Baptst Metz mengajar. Dalam periode studinya di Jerman ini Nico menyelesaikan disertasi untuk Universitas Leuven di mana mendapat promosi doktor pada tahun 1972. Disertasinya berkenaan dengan Coincidentia Oppositorum in Deo/ in Infinito (Pertentangan saling Bertindih di dalam Allah atau di dalam Yang Tak Terhingga).

Negeri Misi

Gelora misi rupanya tak memberikan jedah bagi studinya yang panjang. Tahun itu juga berangkat ke Indonesia untuk mengajar di STF Driyarkara. Ia mengajar Teologi Dasar, Psikologi Agama dan Metafisika.

STFT FT.

Sejak tahun 1977, ia merangkap sebagai dosen Sekolah Tinggi Kateketik “Karya Wacana” (Jakarta). Hidup yang adalah misi tak menghentikannya untuk berkarya di luar ibu kota negara. 1983, ia bermisi ke ufuk paling timur Nusantara. Ia dipanggil untuk mengajar pada Sekolah Tinggi Filsafat Teologi “Fajar Timur”, Papua, sambil juga membantu di STF Driyakara, Jakarta.

Sebagai tenaga pengajar di STFT Fajar Timur, ia menempatkan diri sebagai seorang pengajar hingga tahun 2023, di mana ia secara formal mengakhirinya dengan kuliah umum penutup. Ia hadir sebagai seorang gembala para mahasiswa dan mahasiswi. Apa yang dikerjakan di sana meliputi cukup banyak bidang studi. Hal ini disebabkan pada era itu, STFT Fajar Timur tidak memiliki tenaga yang cukup dalam bidang akademis.

Nico mengajar banyak matakuliah teologi dan filsafat. Di bidang teologi ia mengajar pengantar teologi, kristologi, sejarah dogma, pneumatologi. Di bidang filsafat dia mengajar pengantar filsafat, sejarah filsafat, metafisika, filsafat manusia dan filsafat ketuhanan. Di samping mengajar dia juga menjabat pimpinan SFTF Fajar Timur dari 1984 hingga 1988 dan ketua satu bidang akademik dari 1994 hingga 1998.