Membangun Kehidupan Alternatif dari Kampung {Membaca Program 100 Hari Kerja Bupati-Wakil Bupat Mimika dalam Terang David Harvey}
Right to the Kampung
Harvey menyuarakan konsep “right to the citiy”- hak rakyat untuk turut mengatur dan menentukan arah pembanguan kota. Dalam konteks Mimika, kita bisa perluas gagasan ini menjadi “hak atas kampung” (right to the kampung), yakni hak rakyat kampung untuk menentukan prioritas pembangunan, mengelola dana desa secara mandiri, serta mempertahankan kearifan lokal sebagai kekuatan utama pembangunan sosial.
Dalam Rebel Cities (2012), Harvey membuka ruang pemahaman kita bahwa siapa pun termasuk perempuan berhak bukan hanya hadir di forum kampung, tapi berkuasa mengubahnya. Alasannya, karena perempuan kerap tidak diakui sebagai subjek pengambilan keputusan ruang (kota dan kampung). Padahal patut digaraisbawahi bahwa penggusuran, pembangunan, dan dispossession sering berdampak paling berat kepada perempuan dan anak-anak, tapi pada saat yang sama mereka tidak dihadirkan dalam forum formal pembicaraan ruang.
Kebijakan yang hanya menaruh proyek di kampung tanpa menempatkan rakyat dan perempuan sebagai aktor utamanya, hanya akan melahirkan ketimpangan baru. Kampung dibangun, tetapi rakyat tetap dipinggirkan.
IPM dan Ilusi Statistik
Sering pembangunan dievaluasi dari angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM), serapan anggaran tahunan (induk dan perubahan), atau panjang jalan yang dibuka, dan lain-lain. Tetapi seperti yang dikritik Harvey, indikator semacam itu justru bisa menjadi kedok yang menutupi persoalan struktural. Angka IPM bisa naik, tetapi apakah itu berarti masyarakat kampung benar-benar hidup lebih bermartabat.
Kehidupan alternatif yang diperjuangkan Harvey bukan sekedar statistik, tapi dunia di mana warga punya kendali atas hidupnya sendiri. Artinya, pembangunan kampung tidak cukup berhenti pada angka, tapi harus menyentuh substansi relasi kuasa siapa yang bicara, siapa yang menentukan, siapa yang diuntungkan.
Menjemput dunia lain
Program 100 hari kerja ibarat sekeping uang logam yang memiliki dua mata penjuru yang membentuk satu makna nominal uang. Program itu memiliki dua wajah yang saling melengkapi. Ada wajah A dan ada pula wajah B.
Wajah A menunjukkan bahwa pimpinan sungguh-sungguh cekatan (tidak lamban) atau bertele-tele, memberi sinyal pada publik bahwa ia bekerja nyata, bukan hanya kampanye. Seratus hari pasca-pelantikan adalah periode bulan-madu, ketika publik masih memberi harapan di pundak pemimpin. Pemimpin bisa menggunakan momentum ini untuk konsolidasi internal (OPD, staf, elite lokal) dan membangun legitimasi awal. Ini fase teramat penting. Fase dimana pemimpin mengidentifikasi masalah krusial yang bisa ditangani cepat (misalnya pelayanan publik, perizinan, kebersihan kota, atau konflik sosial).
Pentingnya fase ini ibarat barometer untuk pemimpin mengelola kebijakan publik, dan publik mengukur kerja, pengabdian dan pelayanan pemimpin untuk seribu tujuh ratus duapuluh lima (1.725 hari) ke depan.
Wajah B memperlihatkan krusialitas dan prioritas program kerja. Tentu saja untuk program-progam kerja yang bersifat jangka panjang (pendidikan, kemiskinan, pengangguran, atau IPM) bukan tempatnya di fase ini. Namun embrio kebijakan dalam rangka merekonstruksi pardigma lama bidang-bidang tersebut sudah mulai dibibitkan di fase ini. Di sini dibutuhkan kesepahaman pemimpin dengan rakyat kecil. Pemimpin memahami kebutuhan rakyat, dan rakyat memberi dukungan pada kerja dan kinerja pemimpin.
Jika pembangunan hari ini hanya replikasi dari proyek lama yang hanya mengganti nama tetapi meminggirkan kampung, maka ia bukan kehidupan alternatif, tapi pengulangan yang menyamar. Tetapi, jika pembangunan dari kampung sungguh menempatkan rakyat dan perempuan di kampung sebagai pusat sebagai pemikir, pelaksana, pelaku langsung pengelolaan anggaran dan penerima manfaat maka kita sedang berjalan di jalan yang dirindukan Harvey, menciptakan dunia lain, dunia alternatif yang lebih bermartabat.
Program 100 hari Bupati dan Wakil Bupati Mimika hari ini punya peluang besar untuk tidak sekedar mengejar pembangunan, tetapi menciptakan sejarah baru. Sejarah dimana kampung tidak lagi dianggap beban masa lalu, melainkan benih masa depan. Karena dalam kampung kita bisa menanam kehidupan alternatif, dan di sanalah perubahan sejati tumbuh. {isi tulisan tanggung jawab penulis}














