LEMASKO Ingatkan YPMAK dalam Seleksi Peserta Beasiswa Utamakan Anak Kamoro Bukan “Titipan”
Timika,papuaglobalnews.com – Wakil Ketua I Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (LEMASKO), Marianus Maknaepeku, mengingatkan Yayasan Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) agar dalam proses seleksi calon penerima beasiswa benar-benar mengutamakan anak-anak Suku Kamoro, bukan peserta “titipan”.
Menurut Marianus, dalam proses seleksi sebaiknya juga tidak melabeli atau menyampaikan bahwa anak-anak Kamoro tidak mampu atau gagal karena tidak lolos seleksi, sebab hal tersebut dapat berdampak buruk pada mental mereka dan menumbuhkan rasa minder atau tidak percaya diri sehingga enggan bersaing di kemudian hari.
Pernyataan tersebut disampaikan Marianus berdasarkan masukan dan keluhan langsung dari para pelajar dan mahasiswa Suku Kamoro penerima beasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan tingkat SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi di Manado.
Keluhan itu disampaikan mereka kepada pengurus LEMASKO dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (Monev) program beasiswa yang dilaksanakan di Manado pada 27-30 Januari 2026.
Dalam kegiatan Monev tersebut, Marianus juga menerima aspirasi terkait kebutuhan fasilitas penunjang belajar, khususnya laptop, yang sangat dibutuhkan oleh mahasiswa semester akhir untuk penyusunan skripsi dan tugas akademik lainnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa terdapat anak-anak Kamoro yang sebelumnya tidak lolos seleksi beasiswa, namun tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi secara mandiri oleh orang tua. Bahkan, beberapa di antaranya kini telah menempuh pendidikan strata dua (S2) dengan hasil akademik yang sangat baik.
Oleh karena itu, Marianus berharap ke depan proses seleksi penerima beasiswa harus melibatkan lembaga adat serta memberikan porsi yang adil, di mana kuota untuk anak-anak Kamoro harus setara dengan Amungme dan lima suku kekerabatan lainnya.
Ia juga menegaskan bahwa proses seleksi harus dilakukan secara murni dan transparan, tanpa adanya permainan dari oknum staf atau pejabat YPMAK. Ia menyayangkan praktik di mana calon yang tidak lolos seleksi justru digantikan oleh anggota keluarga oknum tertentu.






