Timika,papuaglobalnews.com – Di momen peluncuran Bank Sampah yang digagas Pemerintah Distrik Mimika Baru di Lapangan Jayanti, Kelurahan Sempan di Jalan Yos Sudarso pada 3 Oktober 2025, Bupati Mimika Johannes Rettob menjanjikan membeli mesin pemilah sampah pada tahun 2026.

Pengadaan mesin pemilah ini menurut John, bertujuan memudahkan tenaga kerja dalam pemilahan sampah sesui jenisnya. Dimana semua sampah yang dibawa dalam karung dari warga atau petugas langsung dituangkan dalam mesin.

Orang nomor satu di Mimika ini mengajak semua pihak berkomitmen masalah sampah selama lima tahun dimasa kepemimpinannya bersama Emanuel Kemong harus benar-benar ditangani secara baik dari hulu hingga hilir agar Kota Timika bebas dari sampah.

John juga berharap lewat mengubah sampah menjadi bernilai ekonomis tidak ada masyarakat Mimika yang lapar. Program ini menuju kesejahteraan.

Di hadapan pimpinan OPD, tenaga pemilah sampah dan undangan lainnya, John menceritakan berdasarkan hasil kunjungannya di Banyumas, kotanya sangat bersih tanpa sampah. Puntung rokokpun hampir tidak kelihatan sama sekali di jalan raya. Orang yang membuang puntung rokok di jalan merasa malu sendiri kemudian pilih kembali masukan dalam saku celana.
Di Banyumas sampah yang diletakan di depan rumah pada malam hari bangun pagi sudah hilang diambil orang untuk dijual.

Berdasarkan pengalaman itu, John mengharapkan masyarakat Mimika perlu membangkitkan kesadaran ‘budaya malu’ membuang sampah sembarangan. Juga berharap suatu saat di Timika sampah menjadi rebutan warga untuk dijual menjadi uang.

Di momen yang sama, John juga menjanjikan mulai tahun 2026, anggaran penanganan sampah yang selama ini dikelola Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dialihkan ke Pemerintahan Distrik, kelurahan dan RT.

Namun demikian, ia mengingatkan dengan dialihkan tanggung jawab menangani sampah oleh distrik, kelurahan dan RT harus benar-benar bekerja. Kepala distrik, lurah dan Ketua RT yang bermain-main langsung dipecat dan diganti dengan oang lain.
John mengungkapkan persoalan sampah di Mimika 70 persen menjadi salah satu faktor penyumbang malaria tertinggi di Papua dan 30 persen tingkat nasional. Banyaknya sampah menjadi tempat genangan air dan wadah nyamuk berkembangbiak. **